Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 11 September 2017 | 16:18 WIB
  • Mahasiswa dan Pemuda Bali Galang Dana untuk Rohingya

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Herdian Armandhani
Mahasiswa dan Pemuda Bali Galang Dana untuk Rohingya
Photo :
Aksi Kemanusiaan di Bali untuk Rohingya.

VIVA.co.id – Ratusan  pemuda dan mahasiswa di Bali turun ke jalan melakukan aksi penggalangan dana untuk kemanusiaan bagi warga muslim etnis Rohingya pada Jumat, 8 September 2017 usai pelaksanaan ibadah salat Jumat.

Ratusan pemuda dan mahasiswa Bali ini tergabung dalam Aliansi Pemuda Peduli Rohingya yang terdiri dari berbagai organisasi. Di antaranya KAHMI, HMI, PII, IMM, IPM, Pemuda Muhammadiyah, KOKAM, GP Anshor, Puskomda Bali, FPMI, IM3, IMMUKI, KAMMI, MCOS, FOKMSITA, IAHA, JPMRI, GEMMAR, GAMMIS, ACT, ARBAIN, FPMB, MRI, KMOSSAK, dan IRMUSA.

Aksi penggalangan dana ini dilakukan di perempatan Jalan Sudirman-Dewi Sartika. Aksi ini berlangsung selama dua jam dan mendapatkan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Aksi kemanusiaan ini dipicu atas terjadinya kejahatan kemanusiaan (genosida) terhadap warga Muslim Rohingya di Myanmar.

Hingga detik ini, pembersihan etnis Rohingya terus berlangsung. Ribuan korban jiwa yang meninggal ataupun luka berjatuhan akibat kebrutalan militer Myanmar. Banyak warga Rohingya yang akhirnya harus mengungsi ke tempat lain untuk menghindari sasaran tembak militer.

Militer Myanmar menganggap bahwa etnis Rohingya bukan bagian warga negara mereka. Padahal, jika dilihat dari sejarah, Rohingya yang sebagian besar menganut agama Islam sudah mendiami wilayah tersebut sebelum negara Myanmar merdeka.

Dalam Aksi kemanusiaan ini, Aliansi Pemuda Peduli Rohingya membuat pernyataan sikap. Di antaranya mengutuk tindakan genosida etnis Rohingya yang terjadi di Myanmar, meminta pemerintah Indonesia untuk mengusir duta besar Myanmar dari Indonesia jika Myanmar tidak serius menyelesaikan kejahatan kemanusiaan tersebut, mendukung penuh upaya pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam penyelesaian krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

Mereka juga mendesak anggota ASEAN memberikan sanksi diplomatik kepada Myanmar, mendesak PBB untuk menekan Myanmar agar memberikan hak-hak kewarganegaraan kepada etnis Rohingya, menyeret elit pemerintah Myanmar yang menjadi aktor intelektual genosida ke Mahkamah Internasional, menghimbau untuk seluruh umat Budha di Indonesia untuk tidak takut, dan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi serta tetap menjaga kerukunan umat beragama. Serta mengajak masyarakat serta seluruh aktivis dan pemuda Indonesia untuk melakukan penggalangan dana kemanusiaan bagi Rohingya.

Menurut Ilham Affandy Sirait, selaku Koordinator Aksi Kemanusiaan untuk Rohingya di Bali, penggalangan dana yang dilakukan elemen pemuda dan mahasiswa di Bali bukan semata karena persamaan agama yang dianut mayoritas masayarakat Indonesia, tetapi lebih menekankan dari aspek kemanusiaan.

“Aksi ini merupakan aksi kemanusiaan semata, bukan karena persamaan agama yang dianut. Sudah seharusnya kita membantu warga etnis Rohingya yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan. Aksi yang kami lakukan berdasarkan Pembukaan UUD 1945 alinea pertama dimana ditekankan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena  tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan,” tegasnya.

Dalam penggalangan dana ini terkumpul sebanyak Rp46.091.400. Seluruh dana yang terkumpul akan didonasikan langsung ke lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Selain di persimpangan Jalan Sudirman-Dewi Sartika, kegiatan penggalangan dana ini dilakukan di sejumlah masjid dan musala. Seperti di Masjid Al Ikhlas, Masjid Baiturrahman, Masjid Al Furqan, Masjid Al Ikhlas Bandara Ngurah Rai, Masjid Baitul Ummah,, Masjid As Salam, Masjid Sadar, Masjid Baitul Mukmini, Masjid Ibnu Batutah, Mushalla Al Azmi, Musala Al Amanah GKN Renon, Musala Mandala Darussalam, Masjid Baitul Makmur, dan beberapa masjid serta Musala di Bali.

Sayangnya, sejumlah media ada yang memberitakan kalau kegiatan aksi kemanusiaan ini ditujukan untuk berunjuk rasa kepada Presiden Jokowi yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Pulau Bali dalam waktu yang sama. Padahal nyatanya, aksi ini tidak ada kaitannya dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Bali. (Tulisan ini dikirim oleh Herdian Armandhani, Denpasar)