Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 12 September 2017 | 11:41 WIB
  • Doa dari 60.000 Anak Yatim untuk Rohingya

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Doa dari 60.000 Anak Yatim untuk Rohingya
Photo :
Doa anak yatim untuk Rohingya.

VIVA.co.id – “Ya  Allah, Yaa Rabb kami…
Kami telah menyaksikan dan merasakan penderitaan dan kesedihan saudara kami di Rohingya. Sesungguhnya rasa sakit mereka adalah sakit kami juga. Airmata mereka, adalah airmata kami juga. Dan tangisan mereka, adalah tangisan kami juga.

Ya Allah, selamatkanlah kaum Muslimin di Rohingya. Ya Allah, selamatkanlah kaum Muslimin di semua tempat. Ya Allah, selamatkanlah kaum-kaum yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman”.

Untaian kalimat di atas adalah penggalan doa anak asuh Rumah Yatim yang dipanjatkan malam ini.  Serentak oleh  sekitar 60.000 anak asuh yang tersebar di 14 provinsi. Doa dipanjatkan dengan khidmat sambil menitikkan air mata. Mereka berdoa untuk keselamatan kaum muslimin di Rohingya.

Mereka berharap, kaum muslim di Rohingya bisa kembali hidup dengan tenteram dan damai. Sehingga mereka, terutama anak-anak bisa terus belajar dan mengejar cita-cita mereka untuk membangun negerinya.

Kegiatan doa serentak ini merupakan bentuk solidaritas Rumah Yatim  yang merasa prihatin dengan kondisi Muslim Rohingya saat ini. Untuk itu, setiap asrama dan masjid-masjid yang diramaikan anak asuh diminta memanjatkan doa sesudah salat magrib.

"Kami berdoa, semoga kaum Muslim di Rohingya khususnya sahabat-sahabat kami bisa kembali bersama keluarganya yang masih ada dengan aman. Bisa menggapai cita-cita mereka dan mereka bisa tersenyum, bukan menangis karena menahan penderitaan," ungkap  Salma, salah satu anak  belia yang ikut berdoa bersama di Asrama Rumah Yatim.

Aksi solidaritas ini tidak hanya dilakukan seluruh anak asuh saja, namun seluruh pengurus dan karyawan pun memanjatkan doa yang serupa. Mereka berharap kepada Allah agar kaum Muslim Rohingya diselamatkan dan dibebaskan dari segala bahaya  yang mengancam mereka. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)