Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 26 September 2017 | 11:46 WIB
  • Belajar Bersyukur dari Seorang Tunanetra

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Belajar Bersyukur dari Seorang Tunanetra
Photo :
Jajang, seorang tunanetra yang selalu bersyukur.

VIVA.co.id – “Sunggguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” Q.S At-tin: 4

Allah berfirman dalam ayat tersebut, bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan bentuk sebaik-baiknya. Namun, ada kalanya perspektif manusia tentang manusia lainnya berbeda. Terkadang sebagian orang memandang rendah penyandang disabilitas sebagai manusia yang memiliki kekurangan. Padahal, dalam ayat tersebut jelas bahwa seperti apapun bentuk manusia yang lahir ke dunia ini adalah bentuk sebaik-baiknya.

Hal itu dibuktikan oleh Jajang, seorang penyandang disabilitas. Sejak dia bersekolah di bangku SMP, Allah mencabut penglihatannya sehingga dia tak mampu melihat lagi hingga kini. Menurut keterangannya, dia tidak bisa melihat karena sakit demam yang tiba-tiba merenggut penglihatannya.

Namun,satu hal yang membuat dia sempurna dibanding orang yang bisa melihat pada umumnya, yaitu cara pandangnya tentang kehidupan dan keinginannya untuk lebih baik. Upayanya yang pantang menyerah, menjadikan dia sebaik-baiknya manusia.

Selain itu, dia pun membuktikan kemuliaan hatinya dengan menikahi seorang wanita yang juga tak bisa melihat. Bahkan, sejak lahir istrinya tak pernah melihat keindahan dunia yang dia tempati. Dari wanita yang setiamendampinginya tersebut, Jajang diberikan anugerah empat orang anak yang salah satunya sudah membanggakannya sebagai seorang ayah.

Seorang Jajang bisa membuktikan dengan pekerjaan yang halal. Tanpa meminta-minta karena ketidak mampuannya untuk melihat, dia tetap bisa menguliahkan anaknya. Dengan pekerjaannya yang hanya sebagai tukang kerupuk, Jajang menunjukkan bahwa keterbatasan diri dan ekonomi tak menghalangi anak-anaknya untuk bersekolah setinggi mungkin.

Sudah 4 tahun lamanya dia berjualan kerupuk. Sebelumnya, dia bekerja sebagai tukang pijat. Namun, karena kini banyak tukang pijat online akhirnya dia tersingkir perlahan-lahan. “Sebelum ada tukang pijat online, Alhamdulillah sehari suka dapat dua pelanggan. Tapi, sejak ada pijat online, jangankan sehari, seminggu tidak pernah dapat satu pelanggan pun,” paparnya.

Karena itu, dia membanting setir menjadi tukang kerupuk. Sebelum anaknya bekerja dan memiliki motor, dia harus berjalan kaki dari rumahnya yang berada di Pondok Cabe menuju Lebak Bulus. Namun, dia tetap senantiasa bersyukur apapun pekerjaan yang dia miliki.

Saat ini, dia masih bisa menghidupi keluarganya bahkan bisa menyekolahkan putra putrinya. Dalam keterbatasannya, dia tegas terhadap anak-anaknya termasuk mengenai jalan hidup yang mesti ditempuh anak-anaknya.

“Anak-anak bapak jangan kaya bapak. Mereka harus lebih baik. Mereka tak boleh membantu bapak jualan. Paling, boleh antar jemput saja. Mereka harus sekolah setinggi mungkin untuk mengubah nasib keluarga. Karena sekarang, lulusan SD dan SMP itu sudah tidak ada artinya lagi,” tutur Jajang.

Jajang menjadi sumber inspirasi luar biasa. Nurul, salah satu karyawan Rumah Yatim yang juga anak asuh Rumah Yatim ini merasa termotivasi dengan kehidupan Jajang yang luar biasa. Sosoknya bersahaja, mengajarkan kita hakikat syukur dan perjuangan.

Karena itu, pada kesempatan tersebut, Nurul yang didampingi Firman, yang juga karyawan Rumah Yatim memberikan santunan sembako kepada Jajang. Dalam kesempatan itu pun, tak lupa Jajang bersyukur dan mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, semoga Allah membalas 700 kali lipat,” tutupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)