Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 27 September 2017 | 13:01 WIB
  • Perjuangan Hidup Rusmiyati dengan Gerobaknya Tiada Akhir

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Perjuangan Hidup Rusmiyati dengan Gerobaknya Tiada Akhir
Photo :
Rusmiyati saat menerima bantuan.

VIVA.co.id – Tunawisma masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa Indonesia. Khususnya bagi aparat pemerintahan yang ada di ibu kota Jakarta. Karena hingga kini, tunawisma masih banyak berkeliaran setiap harinya menghiasi kota yang dulu dikenal dengan nama Batavia.

Bahkan, menurut beberapa sumber, Jakarta termasuk kota yang memiliki banyak gelandangan hingga menduduki peringkat ke-6 dunia. Salah satunya Rusmiyati, yang sejak menikah sudah menjadi tunawisma. Pertemuan dengan suaminya Heri yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat tak mengubah nasibnya. Justru, malah membuatnya harus terlunta-lunta di jalanan ibu kota. Ia terpaksa menjadi tuna wisma karena tak ada biaya untuk mengontrak rumah apalagi membeli rumah.

Di tengah keterpurukannya yang tak memilki rumah, dia tak menggantungkan hidup untuk mengemis. Tapi, dia memilih mencari rezeki yang halal dengan menjadi pemulung. Setiap hari, dari jam 4 sore sampai jam 12 malam dia mencari rongsokan untuk dijual kepada penadah. “Kalau siang banyak yang nyari juga, kalau malam yang nyarinya sedikit,” paparnya.

Di keheningan malam, Rusmiyati dan Heri sibuk mengais-ngais sampah. Dibawa serta anak-anaknya yang masih kecil itu. Jika lelah dan kantuk menghadang, maka kedua anaknya ditidurkan dalam gerobak yang menjadi harta satu-satunya.

Miris, setiap malam kedua anaknya yang masih berusia  8 dan 5 tahun ini harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan terpaksa tidur di gerobak. Selepas jam 12 malam, mereka pun akan mencari tempat kosong di jalanan untuk merebahkan diri hingga pagi menjelang dan hanya beralaskan koran dan kardus.

Sebenarnya, anak Rusmiyati ada tiga orang. Tapi, anak bungsunya diculik orang yang baru dia kenal satu minggu. Orang itu berprofesi sama dengannya dan bahkan sama tak memiliki tempat tinggal. Atas dasar kepercayaan, dia sudi memberikan anaknya untuk digendong oleh orang itu. Masih tergambar dalam ingatannya, wajah si penculik itu. Namun, dia tidak punya kemampuan apa-apa, hanya bisa meratapi nasibnya. “Mau dicari ke mana? Jakarta ini luas, Mba.” tuturnya sedih.

Dari kerja keras dia dan suaminya, Rusmiyati pun bisa mendapatkan uang untuk makan sehari-hari dan jajan anak-anaknya. “Yang penting anak-anak bisa makan dan jajan. Kalau ibu dan bapaknya mah enggak apa-apa tidak makan juga,” paparnya.

Karena kasih sayang kepada anaknya itu, dia pun sempat berniat menitipkan anak sulungnya ke saudaranya yang ada di kampung halaman di Banten. Agar dia bisa sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Tapi sayang, anaknya tidak mau. Dia lebih memilih tinggal bersama dirinya. Hingga kini, anaknya yang sudah pantas bersekolah di SD itu, belum bersekolah sama sekali. “Ya, sekolah memang gratis, Mba. Tapi kan banyak bayaran ini itu,” ungkapnya.

Menjadi tuna wisma bukanlah pilihan hidupnya. Namun, dia tak memiliki pilihan lain selain itu. Untuk mengontrak rumah, dia tidak punya uang lebih. Untuk pulang ke kampung halaman, dia pun tak bisa karena tidak ada sanak dan saudara yang mampu menanggung beban hidupnya. Akhirnya, dia pun terjebak di ibu kota dan terlunta-lunta di jalanan. Entah bagaimana kelak nasib anak-anaknya, dan dia hanya bisa mengatakan, “Mungkin ini adalah takdir,” ungkapnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Rumah Yatim datang menemuinya dan berharap dapat meringankan bebannya dengan memberikan santunan sembako. Meski tak seberapa, namun itu cukup menyenangkan hati Rusmiyati yang sudah sangat kelelahan. Santunan diberikan oleh Nurul dan Putri Nazla, karyawan Rumah Yatim yang sangat terharu dengan kehidupan Rusmiyati yang wajib mendapatkan bantuan dari pihak manapun. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)