Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 28 September 2017 | 13:00 WIB
  • Kisah Penjual Abu Gosok yang Mampu Kuliahkan Ketiga Anaknya

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Kisah Penjual Abu Gosok yang Mampu Kuliahkan Ketiga Anaknya
Photo :
Bapak penjual abu gosok.

VIVA.co.id – Sekali pandang, bapak ini bukanlah seorang yang istimewa. Namun, setelah bercakap-cakap cukup lama dengannya, seperti yang dilakukan Nurul dan Firman, karyawan Rumah Yatim sembari memberikan santunan sembako, barulah tahu bahwa bapak yang kesehariannya membawa abu gosok di gerobaknya itu ternyata sangat luar biasa.

Beliau adalah Yati (80), seorang penjual abu gosok yang selalu berkeliling di sekitar Jakarta dengan gerobak tuanya. Abu gosok yang dia dapatkan dari pemasok itu kini sudah mampu membesarkan buah hatinya. Tak berhenti sampai di situ, dengan penghasilannya, bapak yang berbicara dengan logat Jawa medok tersebut ternyata sudah mampu menyekolahkan putra putrinya hingga perguruan tinggi. “Alhamdulillah, putra bapak pada bisa kuliah. Yang ketiga sekarang sedang kuliah tingkat akhir di Yogya,” paparnya bangga.

Yati mengerti betapa penting pendidikan bagi anak-anaknya. Meski dia harus banting tulang dari pagi buta pukul setengah 4 dini hari hingga sore, dengan membawa beban yang cukup berat, namun dia tidak pernah merasa keberatan. Karena baginya, pendidikan anak-anakknya jauh lebih penting di atas segalanya.

Selain itu, dia pun harus meninggalkan istrinya di kampung halamannya di Tegal yang juga turut membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung sembako kecil-kecilan. Di Jakarta, dia tinggal bersama pemilik abu gosok yang dia jual setiap harinya. Jika abu gosok itu laku semua, maka dia akan mengantongi uang Rp100 ribu. Namun, jika sedang sepi hanya akan mendapatkan Rp10ribu.

Padahal, jarak tempuh perjalanan yang harus dia lalui setiap hari sekitar 30 km. Tapi, dia selalu bersyukur. Karena tak sedikit orang-orang yang memedulikannya sehingga dia kadang mendapatkan makan gratis. Atau bahkan, seperti yang Rumah Yatim berikan. Sehingga uang yang didapat bisa dia tabung untuk biaya anaknya atau untuk pulang ke kampung halaman. “Ini berkah, terima kasih. Semoga semakin sukses,” doanya untuk Rumah Yatim. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)