Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 6 Oktober 2017 | 16:49 WIB
  • Sekolah Tak Layak di Sumbawa

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Sekolah Tak Layak di Sumbawa
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Ilustrasi sekolah tak layak.

VIVA.co.id – Maju tidaknya sebuah negara ditentukan oleh pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum saat Hirosima Jepang dibombardir oleh Amerika dan hampir melumpuhkan semua sistem kehidupan masyarakatnya. Yang pertama kali dibangun oleh mereka adalah sistem pendidikannya. Dicetak generasi-generasi handal, dan kita bisa saksikan hingga sekarang Jepang termasuk negara yang maju.

Berbanding terbalik dengan negara kita tercinta ini. Bisa kita saksikan masih banyak masyarakat di kawasan tertinggal yang belum mengenyam pendidikan yang selayaknya. Bahkan, menurut analisis statistik BPS NTB, rata-rata lama sekolah (RLS) NTB masih rendah. Baru mencapai 6,79 tahun atau setara dengan kelas VII SMP. Meski mengalami peningkatan 0,08 persen dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu dikarenakan masih banyak orang-orang di atas 25 tahun yang belum mengenyam bangku sekolah. Dikatakan mending jika putus sekolah, tapi ini belum pernah bersekolah sama sekali. Target pencapaian masih jauh,  target maksimum yang ditetapkan UNDP adalah 15 tahun. Maka, banyak upaya yang dilakukan baik itu oleh pihak pemerintah maupun swasta.

Salah satunya oleh Suchairy Arsyad, S.Pd, M,Pd, seorang pendiri SMP terpadu di daerah Koda Permai, Jorok Utan, Sumbawa, NTB. Sebagai lulusan sarjana pendidikan, dia merasa perlu berbuat sesuatu untuk pendidikan anak-anak kampung halamannya yang memiliki kondisi pendidikan sangat memprihatinkan. Terutama untuk anak-anak yang termarjinalkan seperti anak terlantar, anak-anak yatim dan duafa yang sangat sulit mendapatkan akses pendidikan.

Dengan berani dan tekad yang kuat, dia pun mendirikan SMP yang saat ini saja belum terlihat bangunan sekolah yang layak. Sekolah yang hanya memiliki satu ruangan, tak ada dinding, hanya atap saja yang menaungi sekolah itu untuk melindungi anak-anak dari panas dan hujan. Itupun hanya terbuat dari bahan seng. Lantainya masih tanah bercampur pasir. Hanya bangku belajar yang mencirikan bahwa itu adalah sekolah.

Meski begitu, anak-anak yang berjumlah 25 anak ini tetap semangat belajar. Padahal, sebagian anak harus menempuh 20 km untuk mencapai sekolah dan tak heran sebagian anak jarang sekolah karena hal tersebut.

Tapi, menurut keterangan Suchairy, jarangnya anak bersekolah tak hanya disebabkan jarak. Tidak bersemangatnya si anak bersekolah juga karena ada faktor lain. Dimana kurang kesadarannya orang tua terhadap pendidikan, sehingga sebagian anak harus membantu mereka bekerja mencari nafkah ketimbang bersekolah.

Tak cukup memberikan mereka pendidikan yang layak, namun pihak yayasan di bawah naungan Yayasan Ponpes Khoiru Ummah Sumbawa ini, merasa perlu mencari dana untuk menunjang fasilitas pendidikan. Terutama bangunan yang layak, agar mereka percaya diri.

Untuk itu, berbagai cara pun dilakukan. Baik itu meminta bantuan ke pihak pemerintah maupun ke pihak swasta. Namun semuanya minim tanggapan. Menurut Suchairy, Rumah Yatimlah yang paling tanggap dan yang pertama kali menanggapi pengajuan mereka. “Setelah kami mencari dana ke mana-mana, Rumah Yatimlah yang pertama kali member tanggapan dan respon secara cepat dan langsung,” tutur Suchairy.

Setelah melakukan survei ke daerah tersebut pada September 2017, akhirnya tepat di 3 Oktober 2017, tim Rumah Yatim langsung pergi ke sana. Dengan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tak menyurutkan Tim Rumah Yatim menuju lokasi penyaluran.

Sambutan yang hangat dan penuh haru disaksikan. Dengan membawa bantuan sarana prasarana berupa triplek, semen, bata, kayu, dan pakaian layak pakai serta perlengkapan sekolah, Rumah Yatim NTB disambut gembira.

Bahkan, sebagian guru yang menjadi relawan di tempat tersebut menangis saking bahagianya. Karena kini, sekolahnya bisa diperbaiki. “Alhamdulillah, terima kasih banyak. Insyaallah triplek ini akan kami pasang untuk pembatas antara ruang guru dan ruang kelas,” ungkap Suchairy. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)