Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 13:42 WIB
  • Catatan Relawan, Membantu Sekolah Tak Layak di Sumba

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Catatan Relawan, Membantu Sekolah Tak Layak di Sumba
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Sekolah tak layak.

VIVA.co.id – Mahmiah adalah namaku. Aku seorang relawan Rumah Yatim NTB. Kadang, aku menjadi guru bahasa Inggris anak-anak asuh. Kadang, aku menjadi staf CSR Rumah Yatim. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di Sumbawa, tempat yang indah dan asri di tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Barat.

Jarak antara Rumah Yatim NTB yang ada di Mataram dengan Sumbawa cukup menyita waktu. Tak hanya menggunakan kendaraan darat, kami pun harus menempuh perjalanan laut dengan memakai kapal air. Kami harus menunggu kapal ini penuh agar bisa melaju menuju lokasi penyaluran bantuan.

Lokasinya ada di daerah Koda Permai, Jorok Utan, Sumbawa, NTB. Kami ke sana  untuk membantu anak yatim dan duafa, juga anak-anak terlantar yang bersekolah di SMP Terpadu milik Yayasan Ponpes Khoiru Ummah Sumbawa.

Sesampainya di sana, tak kuasa saya menahan haru. Sekolah itu begitu tak layak disebut sekolah. Tak ada dinding, tak ada lantai dengan semen, apalagi keramik dan bahan material mahal lainnya. Hanya tanah dan pasir saja yang menjadi alas.

Anak-anaknya pun sebagian berseragam, dan sebagian anak tak mengenakan seragam. Di zaman yang penuh kemodernan dan kecanggihan ini, saya takjub masih ada tempat pendidikan yang seperti ini. Padahal ini negara yang kaya akan alam, namun begitu sangat terlihat miskin.

Beruntung, Kepala Cabang Rumah Yatim NTB, Amir Sumarna, sempat melakukan survei sehingga kami tak salah membawa barang untuk penyaluran bantuan. Semua diberikan sesuai kebutuhan. Berupa bahan-bahan bangunan seperti triplek, semen, bata, kayu, pakaian layak pakai, serta perlengkapan sekolah.

Kehadiran kami disambut dengan sangat antusias. Bahkan, para guru yang tidak pernah menerima honor sedikit pun itu sempat menitikkan air mata. Karena menurutnya, Rumah Yatim lah yang pertama kali memberikan santunan kepadanya.

Tak kuasa hati saya melihat tangisan mereka. Sehingga saya pun turut larut bersamanya. Di tengah debur ombak menuju kepulangan kami kembali ke Mataram, saya bertekad akan lebih semangat mencari dana untuk Rumah Yatim, untuk mereka, untuk anak-anak yatim dan duafa, dan untuk semua fakir miskin yang ada di Indonesia, khususnya untuk mereka yang membutuhkan di NTB tercinta ini. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)