Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 16 Oktober 2017 | 16:18 WIB
  • Pameran Seni Parallel Event Biennale Jogja XIV Tahun 2017

  • Oleh
    • Agus Adhari,
    • Luki Antoro
Pameran Seni Parallel Event Biennale Jogja XIV Tahun 2017
Photo :
  • Luki Antoro
Pameran seni Biennale Jogja.

VIVA.co.id – Biennale Jogja hadir lagi di tengah- tengah perkembangan zaman yang semakin serba digital ini. Setidaknya Biennale Jogja hadir menjawab pesimistis masyarakat akan esksistensi seni di Yogyakarta bahkan Indonesia.

Jika kita menengok isu ekonomi bangsa ini, banyak yang bilang bahkan riset menunjukan ekonomi sedang lesu dan daya beli masyarakat juga lesu. Apalagi seni identik dengan karya dan karya yang beli pasti terbayang banyak orang kaya.

Isu tersebut berkembang lagi di mana orang kaya tercekik oleh tax amnesty. Pengaruh-pengaruh itulah yang menimbulkan pesimisme di masyarakat. Isu-isu itu mencoba mempengaruhi dalam dunia seni sendiri.

Namun, tampaknya hal tersebut tidak berlaku bagi Jogja. Biennale Jogja selalu menjawab dengan karya dan kolaborasi dengan para seniman-seniman di Yogyakarta untuk melawan tantangan tersebut.

Dan, faktanyanya adalah di Yogyakarta apa yang dikhawatirkan bahwa  ruang-ruang seni akan mati justru tidak terbukti. Bahkan timbul pertanyaan, “ lha itu sekelas Biennale Jogja, coba ruang-ruang kecil yang tersebar di Jogja?”.

Biennale Jogja pun juga menjawab dengan kolaborasi bersama ruang-ruang yang tersebar di seluruh Yogyakarta dan tentunya para seniman-seniman muda yang mampu terus untuk produktif berkarya.

Setidaknya di tahun ini Biennale Jogja dilingkup Parallel Event memiliki agenda yang dilaksanakan di 29 ruang seni dan 3 ruang publik yang tersebar di seluruh jogja dengan 45 Program Kegiatan yang akan di laksanakan hingga akhir tahun nanti.

Dengan padatnya agenda seni Jogja tersebut menunjukkan bahwa kita dapat estimasikan setiap bulan punya 15 acara atau kegiatan, dan dapat diasumsikan bahwa setiap dua hari sekali Jogja memiliki acara seni yang terus menghidupkan wajah seni di Jogja. Dan kabar baiknya, mereka yang berkarya adalah seniman-seniman muda masa depan Jogja  yang siap menjadi wajah seniman Indonesia.

14 Oktober 2017 menjadi awal perjalanan Parallel Event Biennale Jogja XIV 2017. Bertempat di Ruang seni, Ace House Collective di Jln. Mangkuyudan No. 41 Yogyakarta para bomber yang terdiri dari Deka, ROT/LoveHateLove, TAT(Tatsoy), Mads, Muck dan Graforce mempresentasikan karya bertajuk “ AFTER ALL THESE YEARS “ yang berlangsung mulai Sabtu, 14 Oktober 2017 sampai 20 November 2017 nanti di Ace House Collective.

Pameran ini akan mengungkap banyak cerita yang sempat tidak terungkap tentang perkembangan graffiti di Kota Yogyakarta, khususnya pada awal 2000-an.

Karya-karya graffiti yang tersebar di sudut kota yang sempat didokumentasikan akan dihadirkan lagi. Setidaknya pameran kali ini akan melihat perkembangan graffiti di Kota Yogyakarta dalam satu dekade terakhir ini. 

Pameran ini mencoba mengajak penikmat seni untuk hadir kembali bernostalgia tentang seni graffiti yang sempat terukir di sudut kota Jogja. Sekalipun ada, narasi dan artefak yang beranjak dari masa itu hanya menjadi pengalaman eksoterik semata, yang tersimpan sebagai dokumen pribadi dan terabaikan.

 After All These Years kemudian menjadi moment di mana fragmen cultural yang selama ini tak tampak kembali dipresentasikan dalam pameran ini. Dalam opening kali ini pun tampak hadir para seniman-seniman apik graffiti Jogja juga hadir untuk turut nostalgia menikmati karyanya yang mereka ukir beberapa tahun lalu. Termasuk juga para generasi muda yang tertarik pada graffiti juga turut memadati opening “After All These Years” kali ini.

Opening kali ini juga menyuguhkan live graffiti di media asbes yang besar. Menunjukan bahwa seni graffiti tak selamanya frontal dan dipandang sebagai vandalisme. Mungkin kalau menengok arsip Biennale Jogja tahun 2015 di acara Jamasan di Yogyatourium, Mas Alex TmT selaku seniman graffiti di Jogja juga sempat menceritakan bahwa seni graffiti tak lepas dari proses-proses yang menegangkan.

Tak hanya saat membuat karya, namun juga harus kucing-kucingan dengan warga bahkan aparat. Terlepas dari proses unik para seniman, justru keanehan tampak hingga saat ini. Seniman Graffiti selalu bisa menghadirkan karya-karyanya dan tak pernah henti untuk berkarya dan inovasi.

Ke depan, sampai bulan Desember 2017 agenda parallel event Biennale Jogja masih panjang. Masih ada banyak waktu bagi para penikmat seni di kota-kota lain untuk datang ke Jogja menikmati karya-karya seni seniman muda Jogja. (Tulisan ini dikirim oleh Luki Antoro)