Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 20 Oktober 2017 | 10:55 WIB
  • Jantung Bocor Renggut Masa Depan Rian

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Jantung Bocor Renggut Masa Depan Rian
Photo :
Rian, bocah penderita jantung bocor.

VIVA – Bale-bale depan rumahnya lah yang terkadang membuatnya bisa tertidur. Saat penyakitnya kambuh, rasa panas menjalari tubuhnya. Sesak nafas yang tak tertahankan membuat dia menangis, menjerit hingga berguling-guling. Semalaman dia tak bisa tidur. Tak ada yang dapat membantu meringankan sakitnya. Semua orang hanya mampu menyaksikan dan menemaninya begadang, sembari tak berhenti berdoa agar Allah meringankan sakitnya.

Derita itu dirasakan Rian, seorang bocah kecil yang tak sempat meneruskan sekolah dasarnya akibat penyakit jantung yang dia derita selama 3 tahun belakangan ini. Bermula dari seringnya Rian pingsan di sekolah. Kekhawatiran Sabriah, sang ibu yang sabar merawat Rian, memaksakan dirinya untuk mengajak Rian memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Dari hasil pemeriksaan yang cukup menyita waktu, tenaga, pikiran, dan juga biaya itu, akhirnya dokter memvonis anaknya menderita jantung bocor.

Tak ada biaya, karena dia hanyalah seorang janda yang mengandalkan penghasilan dari buruh tani saja. Anak paling besarnya pun, Yandi, yang saat itu masih duduk di kelas 1 SMK, terpaksa dia titipkan di Rumah Yatim NTB. Beruntung, ada yang membantunya mengurus BPJS sehingga untuk keperluan obat-obatan, Sabirah dapatkan dengan percuma.

Karena obat-obat yang dikonsumsinya setiap hari, Rian pun bisa bertahan hingga 3 tahun lamanya. Namun, kian hari kondisi Rian kian memprihatinkan. Matanya yang dulu bersinar kini begitu layu. Tubuhnya yang kuat, kini hanya mampu duduk dan terbaring saja.

Beberapa waktu lalu, pihak Rumah Sakit sudah menekan Sabirah untuk melakukan operasi di Jakarta. Karena di Mataram tak ada fasilitas operasi yang memadai untuk Rian. Vonis itu diambil karena kondisi Rian semakin memburuk. Tapi Sabirah bingung, harus dengan cara apa anak bungsunya itu bisa dioperasi.

Dia tak memiliki biaya untuk tindakan besar tersebut. Belum ditambah perjalanan menuju ke Jakarta dan proses observasi selama di Jakarta yang diperkirakan dokter menyita waktu 10 hari. Tentu, itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Karena itulah Sabirah mengeluh kepada putra sulungnya yang sudah bekerja di Rumah Yatim sebagai staf pendidikan dan kesehatan Rumah Yatim NTB.

Di tengah kebingungannya, Yandi yang pada dasarnya adalah anak yang pendiam, tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya terlihat sering melamun dan berdoa. Gelagat aneh pun dirasakan ibu asrama Rumah Yatim NTB, Salma Hasanah. Dan secara sigap, Salma pun mengajaknya berbicara. Darinya Salma mengetahui kondisi Rian, dan tak menunggu lama Salma pun segera menemui Rian dan Sabirah.

Kondisi Rian membuat Salma ingin berbuat banyak. Karena itu, Salma bersama Rumah Yatim berniat melakukan penggalangan dana untuk membantu operasi Rian. Agar Rian bisa kembali tersenyum, kembali bersekolah, dan kembali beraktivitas. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)