Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 Desember 2017 | 11:53 WIB
  • Pancasila sebagai Peradaban Dunia

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Imam Rinaldi Nasution
Pancasila sebagai Peradaban Dunia
Photo :
  • Andri Prasetiyo
Pancasila.

VIVA – Seorang filsuf dan ahli sosiologi dari Inggris, Betrand Russel, pernah menyampaikan kekagumannya kepada Soekarno tentang Pancasila. Dia menganggap Pancasila adalah sebagai sintesis kreatif antara Declaration of Amerika Independence, yang merepresentasikan ideologi demokrasi liberal-kapitalis, dengan manifesto komunis yang merepresentasikan ideologi komunis.

Namun, sanjungan ini tidak membuat Soekarno menyetujui perkataan dari Russel. Karena Soekarno menganggap, bahwa Pancasila lahir dari kesadaran anak negeri berbangsa dan bertanah air, bukan diajarkan oleh asing. Dan tidak lahir dari pemahaman ideologi-ideologi yang seperti disampaikan Russel.

Meskipun dia mengganggap manusia sekarang berada pada golongan penganut ajaran manifesto komunis dan itu sebuah pengklaiman Russel. Bahwasanya,  jutaan rakyat Asia dan Afrika tidak serta merta menganut ajaran manifesto komunis. Bahkan Amerika Latin pun tidak menganut ajaran manifesto komunis.

Penolakan Soekarno terhadap dua ajaran yang disampaikan oleh Russel itu bagian dari konsisten bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara. Yang lahir karena pengaruh pengetahuan dan pengalaman bangsa Indonesia yang semenjak awal  menganut prinsip-prinsip nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, bahkan kepemimpinan rakyat dan keadilan sosial. Kendati pun demikian, dua ajaran yang disampaikan oleh Russel telah mengilhami banyak orang, termasuk Soekarno sendiri.

Pandangan bahwa Pancasila adalah hasil pemikiran murni dari bangsa Indonesia dicetuskan juga oleh tokoh-tokoh lain, salah satunya adalah Mohammad Hatta. Hatta pernah menyampaikan manifestasi dari kondisi budaya dan sosial masyarakat yang lebih mengedepankan nilai-nilai budaya ekonomi kerja sama dan gotong royong yang merupakan manifestasi dari komunal-komunal tradisional Indonesia.

Manusia memang perlu untuk memahami, begitu juga ingin menilai segala sesuatu bahkan menafsirkan dan bisa menyimpulkan sendiri. Justru karena itulah, Pancasila banyak diartikan berbeda-beda oleh banyak pihak. Tapi itu kembali kepada yang mempelajarinya dengan dasar dan pemahaman yang ilmiah. Maka akan terjadi perubahan pemikiran bahwasanya Pancasila sebagai suatu ideologi yang lahir sendiri dari bangsa Indonesia.

Perlu kita ketahui tentang perjalanan Pancasila. Dari mulai dicetuskannya sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, sampai saat ini selalu terjadi benturan antara ideologi lain dengan Pancasila Itu sendiri. Sengaja dibenturkan atau tidak, kembali kepada pribadi masing-masing untuk menilainya.

Ada bunyi kata di sila ke empat Pancasila, yaitu tentang kerakyatan. Kata ini sering kali menimbulkan multi tafsir hingga terjadinya silang pendapat. Kerakyatan diartikan sebagai demokrasi. Dan demokrasi yang diterapkan di Indonesia dijustifikasi sebagai demokrasi barat  yang menjadi rujukan demokrasi Indonesia.

Padahal, Indonesia sendiri memiliki kerakyatan dengan karakteristik sendiri. Bukan dengan mengadopsi atau meminjam budaya demokrasi barat untuk diterapkan di Indonesia. Tentu ini tidak akan berjalan dengan konsep yang diajarkan Pancasila. Karena secara pengetahuan, pemahaman, budaya dan sosial masyarakat Indonesia dengan negara-negara barat sangatlah jauh perbedaannya.

Kalau melihat kembali peristiwa mulai dari tahun 1955, Pancasila cukup berhasil menjadi sebuah gagasan toleransi dengan diadakannya Konfrensi Asia Afrika. Bahkan, gagasan itu diadopsi menjadi gerakan Asia Afrika. Pancasila tidak hanya menjadi sebuah gagasan toleransi ketika Konferensi Asia Afrika. Di luar dari pada itu, gagasan toleransi untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk negara-negara di dunia. Bahkan membebaskan bangsa-bangsa dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme.

Seringnya Pancasila dibenturkan dengan pemahaman-pemahaman ideologi lain, itu karena adanya unsur kesengajaan yang dimasukkan ke negara Indonesia untuk memecah belah. Bangsa-bangsa lain tidak ingin Pancasila menjadi motor penggerak untuk kemaslahatan serta kedaulatan berbangsa dan bernegara. Dan itu dihadirkan negara Indonesia melalui ideologi Pancasila.

Sewaktu Soekarno berpidato di hadapan sidang umum konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1960 di New York, dan memperkenalkan konsep Pancasila dengan judul To Build The Work A Now. Ketika itu, Soekarno menawarkan prinsip-prinsip toleransi Pancasila untuk perdamaian bangsa-bangsa di dunia yang kala itu terpecah antara blok barat dan blok timur. Dan konsep itu adalah konsep tata dunia baru. Konsep ini sudah ada sebelum kemerdekaan dan berjalan sampai era reformasi saat ini.

Dengan kemajemukan yang ada di Indonesia, Republik ini menjadi bahan perhatian negara-negara di dunia dan itu didasari pemahaman rakyat Indonesia tentang dasar negara yaitu Pancasila. Begitu demokrasinya Pancasila, sampai bisa mengakomodir semua kemajemukan yang ada di Indonesia.

Founding father bangsa ini begitu sempurna mencetuskan konsep berbangsa dan bernegara. Saat Pancasila bisa dipahami dengan metode yang sesungguhnya oleh seluruh rakyat Indonesia, di saat itu jugalah akan lahir manusia-manusia paripurna untuk memperbaiki negara ini hingga tercapainya demokrasi yang Pancasila. Maka, tidak akan ada lagi perdebatan sila ke empat tentang demokrasi Pancasila karena demokrasi Pancasila bukanlah demokrasi barat melainkan demokrasi yang berkeadilan.

Jika ini bisa diperjuangkan, maka tidak akan sulit mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengubah Pancasila sebagai ideologi negara bukanlah solusi untuk bangsa yang dianugerahi kemajemukan oleh Tuhan yang Maha Esa. Tapi akan menghadirkan perang saudara di Republik ini ,dan para manusia-manusia paripurna tentu tidak menginginkan hal itu terjadi.

Lihatlah negara-negara di dunia, khususnya Timur Tengah. Pancasila sudah final dicetuskan oleh para pendiri negara ini, dan itu untuk semua ruang lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Begitu juga Pancasila, adalah contoh Piagam Madinah sewaktu kepemimpinan Baginda Rasulullah Muhammad SAW saat itu. Justru sekarang ini yang terpenting bagaimana cara pemerintah beserta masyarakat Indonesia memperjuangkan prinsip-prinsip Pancasila untuk kemaslahatan umat di dunia. (Tulisan ini dikirim oleh Imam Rinaldi Nasution, Sekjen Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia)