Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 1 November 2017 | 16:13 WIB
  • Sandi: Kemacetan Jakarta Bikin Pengemudi Mobil Cepat Emosi

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Sandi: Kemacetan Jakarta Bikin Pengemudi Mobil Cepat Emosi
Photo :
  • ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.

VIVA – Belakangan ini banyak kasus sengketa di jalan yang melibatkan satu pengendara dengan pengendara lainnya. Seperti mahasiswa pengendara mobil yang adu pukul dengan tentara pengendara motor, hingga terbaru empat orang pengendara mobil yang terlibat baku hantam di jalan bebas hambatan alias tol dalam kota, Gatot Subroto, Jakarta.

Banyaknya kasus sengketa di jalan dan melibatkan pengguna mobil, disadari Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Kata dia, pengguna mobil di Jakarta memang lebih cepat naik tensi emosinya ketimbang pengendara motor. Penyebabnya tak lain karena kemacetan yang makin menggila.

Sandi punya data kuat soal ucapannya itu. Dia bersama timnya sudah melakukan survei, dan hasilnya berkata demikian.

"Dari data Manufuno.com, 70 persen orang memiliki roda dua, mayoritas. 30 persen mobil, jadi orang yang naik mobil pasti ngomel kalau urusan macet. Jarang orang naik motor (yang ngomel di jalan raya), jadi kemacetan memang masalah besar," ujarnya di Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu, 1 November 2017.

Meski demikian, dirinya menyatakan tidak semua warga Jakarta dan sekitarnya yang mengalami masalah kemacetan. Sebab banyak warga Jakarta yang hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke tempat kerjanya, dan terhindar dari kemacetan.

Tetapi, kemacetan tetaplah sebagai sesuatu masalah yang mesti diatasi. Permasalahan bisa ditangani dengan semangat bersama semua unsur masyarakat, dan pemerintah. "Banyak data-data yang kita pakai untuk menemukan suatu irisan, dan pemerintah bisa membuat kebijakan bukan hanya untuk golongan tertentu tapi untuk semua. Karena yang naik motor itu aspeknya menengah bawah," tuturnya.

Keparahan kemacetan Jakarta juga disampaikan survei terbaru yang dilakukan Uber. Dari total 9 ribu responden, pengguna mobil dari usia 18-65 tahun yang tersebar di sembilan kota besar di Asia, Jakarta masih yang terburuk. Kemacetan Jakarta bahkan lebih mengerikan dibanding Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Hongkong, Taipei, Hanoi, Ho Chi Minh, dan Bangkok.

Head of Public Policy and Government Affairs, John Colombo mengatakan, rata-rata di Asia Pasifik pengguna mobil terjebak macet selama 52 menit setiap hari dan butuh waktu 26 menit hanya untuk mencari lahan parkir. Kata dia, waktu tersebut setara dengan 19 hari per tahun, di mana yang paling parah itu di Jakarta.

Dari hasil survei itu menunjukkan, Jakarta mendapatkan hasil paling buruk. Dari waktu 90 menit mengendarai mobil per hari, warga Jakarta harus menghabiskan waktu di tengah kemacetan selama 68 menit dan butuh waktu 30 menit untuk mencari lahan parkir. (hd)