Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 12 Oktober 2017 | 13:54 WIB
  • Trauma Imam Darto dengan Moge, Tiap ke Bengkel Rp2 Juta

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Trauma Imam Darto dengan Moge, Tiap ke Bengkel Rp2 Juta
Photo :
  • Thegaspol
Imam Darto bersama moge.

VIVA.co.id – Motor custom tentu jauh dari wujud aslinya. Motor itu diracik memang dengan memerhatikan keindahan tanpa memfokuskan pada kenyamanan. Seperti umumnya motor custom bergaya klasik seperti cafe racer, scrambler, tracker dan jenis lainnya, hanya memanfaatkan mesin bawaan pabrik saja. Sisanya, kena sapuan rombak.

Mulai dari sasis, bodi, setang, sampai kaki-kaki dicustom oleh builder dengan material yang sudah ditentukan, begitu pun ukurannya. Oleh sebab itu tingkat kenyamanan jadi hilang.

Namun ternyata hal ini pula yang membuat presenter dan penyiar Imam Darto merasa trauma. Dahulu pembawa acara 'The Comment' dan penyiar di Prambors itu sangat gandrung akan motor modifikasi. Motor itu pula yang digunakannya untuk touring perjalanan jauh. Rasa takut pun muncul, karena rasa nyaman hilang meski wujudnya memanjakan mata.

Alhasil motor custom berbasis Harley Davidson Shovel Head klasik lansiran 1975 bergaya bobber itu dijualnya. Kata dia, motor custom yang diberi nama Neng Karom atau 'Kancut Rombeng' ini dijual karena kenyamanan yang tidak memadai.

"Tertarik bikin custom lagi, tapi nomor satu harus nyaman. Karena saya naik itu (bobber) selalu kehujanan, saya panggil dia Si Kancut Rombeng, jadi saya kehujanan mulu dari depan belakang saja nyiprat. Saya pakai dua hari, di bengkel sebulan, terus baru pakai tiga hari, di bengkel tiga bulan," ujarnya kepada VIVA.co.id.

Sampai pada akhirnya Imam Dartio merasa jenuh dengan moge asal Amerika Serikat itu, karena sekali ke bengkel ia harus merogoh kocek hingga Rp2 jutaan. Pria kelahiran Jakarta, 12 November 1982 akhirnya memutuskan untuk menukar sang bobber dengan Indian Chief Classic lansiran 2014 yang diberi nama Black Mambah, karena bentuknya panjang dan hitam.

"Kalau custom sudah enggak ada (sekarang), karena saya sudah lumayan capek. Karena pakai bobber itu saya merasa duduk enggak enak, motor custom itu enak dilihat tapi dinaikin enggak enak. Makanya yang Indian di-custom sedikit saja buat behel depan belakang, jadi look-nya kayak Harley Dreser tahun 50-an begitu," tuturnya.