Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 30 Agustus 2017 | 16:20 WIB
  • Indonesia Kaji Program Mobil Listrik

  • Oleh
    • Toto Pribadi,
    • Agus Rahmat
Indonesia Kaji Program Mobil Listrik
Photo :
  • VIVA.co.id/Shintaloka Pradita Sicca
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

VIVA.co.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melaporkan perkembangan proyek mobil listrik nasional ke Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 30 Agustus 2017. Menurut Airlangga, Presiden Jokowi menanyakan soal time frame dari penggunaan mobil listrik.

"Apakah kita akan menganut seperti negara lain, yang nanti pada waktu tertentu membatasi jumlah mobil listrik atau mobil biasa," kata Airlangga di Istana Negara, Rabu 30 Agustus 2017.

Lazimnya, kata Airlangga, saat menjelaskan ke Presiden, ada dua yang dilakukan di negara-negara lain, yakni pelarangan total atau pembatasan pada waktu tertentu.

"Salah satu yang kita setujui adalah, beliau menyetujui tahun 2025 itu 20 persen itu sudah diproduksi dari mobil berbasis electric vehicles," lanjutnya.

Soal bea masuk juga dibahas. Saat ini besarannya masih 50 persen. Namun, ungkap Airlangga, ada rencana diturunkan sesuai dengan perjanjian-perjanjian perdagangan bebas dengan para negara mitra.

Saat ini tarif untuk katagori most favored nation atau MFN sebesar 50 persen. Pihaknya ingin MFN itu turun hingga 5 persen untuk produsen yang berproduksi di dalam negeri.

"Kita mau turunkan MFN itu 5 persen untuk yang berproduksi di dalam negeri, yang mempunyai road map itu kita turunkan ke 5 persen. Kalau tidak mempunyai komitmen membangun di dalam negeri, tentu tidak dapat fasilitas yang 5 persen. Jadi ini yang akan didorong," jelasnya.

Airlangga menjelaskan, beberapa pabrikan mobil listrik sudah siap pamerkan prototipe mereka sebelum diproduksi massal. Namun semua itu harus diuji coba lagi, terutama di Indonesia.

Beberapa kendaraan akan jalani uji coba, termasuk dua tipe mobil listrik. Yakni, yang menggunakan plug-in charge dan yang tidak. Keduanya, menurut Airlangga, sudah tersedia di Indonesia.

"Ini terbuka untuk berbagai negara. Tapi China sudah menyatakan berminat. Begitu pula Jepang dan Taiwan. Nanti kita lihat, kita fasilitasi," kata Airlangga. (ren)