Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 11 September 2017 | 11:52 WIB
  • Ancang-ancang Hadapi Aturan Mobil Bensin Dilarang Beredar

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Yunisa Herawati
Ancang-ancang Hadapi Aturan Mobil Bensin Dilarang Beredar
Photo :
  • Carscoops
Ilustrasi mobil listrik Volvo.

VIVA.co.id – Dewasa kini banyak negara sudah mulai merencanakan membuat aturan untuk mengurangi polusi dan emisi karbon. Salah satunya adalah dengan menggodok aturan pelarangan bagi produsen kendaraan roda empat menjual mobil bermesin bensin dan diesel.

Salah satu negara yang mulai gencar mengkampanyekan rencana aturan itu adalah China. Meski demikian, rencana pelarangan hingga kini masih dalam tahap proses pembahasan dan belum diputuskan kapan aturan tersebut bakal diterapkan.

Wakil Menteri Industri Tiongkok, Xin Guobin menyebut, pemerintah China sejauh ini baru melakukan kajian yang relevan untuk menerapkan kebijakan tersebut. "Langkah-langkah ini tentu akan membawa perubahan besar untuk pengembangan industri mobil kita," kata Xin Guobin seperti dilansir BBC, Senin 11 September 2017.

Selain Tiongkok, sejumlah negara pun telah mengumumkan rencana melarang kendaraan diesel dan bensin dijual di negara tersebut, yakni Inggris dan Prancis. Baik Inggris dan Prancis akan melakukan pelarangan mobil bermesin bensin dan diesel beredar di jalan pada 2040 mendatang.

Sejumlah produsen kendaraan roda empat pun telah menanggapi rencana pemerintahan Tiongkok. Volvo salah satunya. Mereka mengungkapkan, untuk menghadapi kebijakan itu, perusahaan akan memproduksi mobil listrik pada 2019 mendatang.

Sementara Geely berencana menjual satu juta unit mobil listrik pada 2025. Aliansi Renault-Nissan, Ford dan General Motors pun mengaku telah mengembangkan mobil bertenaga listrik di Tiongkok. Jelas saja hal itu dilakukan sejumlah produsen mobil yang berinvestasi di Tiongkok. Sebab pembuat roda empat tengah berlomba-lomba merebut pasar otomotif di negara tersebut.

Tiongkok menginginkan mobil listrik dan hibrida plug-in menyumbang setidaknya seperlima dari penjualan kendaraannya pada 2025. "Pemerintah mengharuskan delapan persen dari total penjualan mobil adalah mobil listrik maupun hibrida plug in sampai tahun depan dan meningkat 12 persen sampai tahun 2020," kata dia.