Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 11:22 WIB
  • Pemerintah Serius dengan Proyek LCGC Jilid Kedua

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Yunisa Herawati
Pemerintah Serius dengan Proyek LCGC Jilid Kedua
Photo :
  • ANTARA/Ujang Zaelani
Sejumlah buruh merakit mobil di pabrik PT Honda Prospect Motor, Karawang.

VIVA.co.id – Program Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar (KBH2) atau yang lebih dikenal dengan sebutan low cost green car (LCGC) bakal berlanjut. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berencana membuat program LCGC jilid kedua.

Program ini berbeda jalur dengan program lain yang juga tengah diagendakan pemerintah, yakni low carbon emission vehicle (LCEV) atau kendaraan rendah emisi. Artinya, meski program LCEV terus berjalan, LCGC jilid kedua juga terus berjalan.

LCGC jilid dua menurut skema bakal ditawarkan sebagai mobil yang jauh lebih irit dari LCGC tahap pertama --seperti yang saat ini ada di pasaran. Apabila dalam aturan LCGC, kendaraan wajib mendapat efisiensi bahan bakar 20 kilometer per jam, di program LCGC jilid kedua akan lebih dari itu.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik, Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, program ini masih dalam proses pembahasan bersama Kementerian Keuangan.

"Struktur PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah) masih dibahas bersama Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu," kata Putu kepada VIVA.co.id di Jakarta, Kamis 13 September 2017.

Meski bakal hadir edisi keduanya, namun pemerintah masih akan terus mempertahankan program LCGC jilid pertama. Seperti diketahui KBH2 jilid pertama adalah kendaraan kecil dengan kapasitas mesin sampai 1.200cc.

Menurut Putu, sementara ini pemerintah memang belum melakukan sosialisasi pada produsen mobil di Tanah Air dengan rencana itu. Penyebabnya seperti yang sudah diterangkan, karena masih dalam tahapan pembahasan dengan Kementerian Keuangan.

"Masih tetap dipertahankan (LCGC jilid pertama). Kalau pembahasan dengan Kemenkeu selesai, kami akan sosialisasikan dengan APM dan lainnya," katanya menjelaskan.

Putu menerangkan, program LCGC jilid kedua sengaja dibuat dengan tujuan agar nantinya setiap kendaraan yang diproduksi menghasilkan emisi gas buang yang rendah. Dengan demikian bisa menekan polusi di Tanah Air.

"Agar di kemudian hari, kendaraan yang diproduksi menghasilkan emisi gas buang yang semakin rendah serta mendorong produksi kendaraan listrik di dalam negeri," ujarnya menambahkan.

Kendati belum disosialisasikan, namun produsen mobil sebenarnya sudah tahu rencana LCGC jilid kedua. Seperti yang disampaikan PT Toyota Astra Motor (TAM) selaku agen tunggal pemegang merek Toyota di Tanah Air belum lama ini.

Menurut Executive General Manager PT TAM, Fransiscus Soerjopranoto, saat ditemui di Jakarta, Toyota tentu menyambut hangat skema LCGC jilid kedua. Kata Soerjo, sapaan akrabnya, pihaknya tentu siap-siap saja jika pemerintah meminta hadirkan LCGC dengan bahan bakar di atas 20 kilometer per liter.

“Bentuk real saya belum tahu, belum ada diskusi juga. Tapi kalau wacana LCGC tahap dua saya sudah dengar, dia mau full consumption didahului. CO2 carbon tax (pajak atas polusi, pajak lingkungan) langsung dipadukan, jadi pemerintah enggak mau namanya CO2 itu jadikan patokan (menentukan harga mobil),” ujarnya.

Toyota berharap agar tak ada lagi pengetesan CO2, mengingat mobil tersebut sudah irit dalam hal konsumsi bahan bakar. “Jadi sekarang gini, siapa yang akan tes CO2-nya. Yang kedua, jadi jualan alat nantinya. Kalau sudah merasa full consumption oke, enggak usah lagi dong CO2, saya lihat dari goverment-nya jadi lebih wise.” (mus)