Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 17 September 2017 | 14:19 WIB
  • Toyota Dukung Rencana Jokowi Hadirkan Mobil Murah Jilid Dua

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Toyota Dukung Rencana Jokowi Hadirkan Mobil Murah Jilid Dua
Photo :
  • VIVAnews/Herdi Muhardi
Suasana perakitan Toyota Etios di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di kawasan perindustrian Karawang, Jawa Barat, Jumat (15/03/2013).

VIVA.co.id – Program Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar (KBH2), atau yang lebih dikenal dengan LCGC (Low Cost Green Car) bakal berlanjut ke jilid kedua. Generasi baru KBH2, rencananya bakal memayungi kendaraan yang lebih hemat bahan bakar dari jilid pertama.

Namun, karena rencana program mobil murah jilid dua masih dalam pembahasan antara Kementerian Perindustrian dan Keuangan, rincian dan aturan mengenai spesifikasi pun belum ada. Termasuk, sosialisasi ke para produsen otomotif.

Terkait hal ini, agen tunggal pemegang merek (ATPM) angkat suara. Fransiscus Soerjopranoto selaku Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, mengatakan, LCGC jilid kedua rupanya ingin dirilis oleh Pemerintahan Joko Widodo sebagai langkah menghadirkan mobil yang lebih irit bahan bakar dan ramah lingkungan ketimbang LCGC jilid pertama.

"Ada keinginan dari Presiden Republik Indonesia Jokowi, untuk menghadirkan teknologi yang lebih maju seperti EV, atau Electric Vehicle, dan tentunya ini ramah lingkungan dan hemat energi. Hal ini sudah disampaikan ke fungsi terkait. Intinya pelaku industri akan membantu untuk mempersiapkannya. Tapi belum dipastikan kapannya, namun sudah ada pembicaraan lintas Kementerian," ujar Soerjo saat dihubungi VIVA.co.id.

Kata Soerjo, untuk mempersiapkan ke arah sana --LCGC jilid dua, pihaknya melihat akan ada teknologi yang akan menjadi perantara sebelum mencapainya. Maka dari itu, akan ada kebijakan-kebijakan dari kementerian terkait dan ATPM yang siap mendukung program baru ini.

"LCGC ada minimal fuel consumption 20 kilometer per liter (tahap pertama). Tapi kira-kira, keinginan pemerintah seperti itu (lebih irit dan jadi perantara sebelum masuknya mobil listrik). Kita lagi tunggu keputusan dan juknisnya (petunjuk teknis)," tuturnya.