Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 17 September 2017 | 18:03 WIB
  • Kelemahan Toyota Calya di Mata Komunitas

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Kelemahan Toyota Calya di Mata Komunitas
Photo :
  • VIVA.co.id/Jeffry
Komunitas Toyota Calya Indonesia (KTCI)

VIVA.co.id – Calya belakangan sukses menjadi salah satu produk Toyota yang terbilang laris penjualannya. Hal ini beralasan mengingat Calya lahir dari rahim merek raksasa, dan menawarkan kapasitas tujuh penumpang. Termasuk statusnya yang merupakan low cost and green car (LCGC) alias mobil murah ramah lingkungan.

Namun, di balik euforia penjualannya yang sukses, Calya menyimpan kekurangan di mata para penggemarnya. Apa saja itu?

Menurut Agus Setiadi, anggota KTCI yang menggunakan Calya tipe tertinggi transmisi matik, masalah ada pada pendingin kabin. Kata dia, kalau yang sudah biasa dengan double blower tentu tak akan nyaman dengan hanya sirkulasi angin.

“Saya juga sempat bermasalah dengan transmisi pertama kali beli. Jadi putaran bawah lemot banget dan sampai gigi tiga nyangkut. Harusnya gigi pindah otomatis di 4.500 rpm dari gigi empat, bukan pindah ke lima, malah balik lagi ke tiga,” tuturnya saat ditemui di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Namun, kata dia, hal tersebut bisa terselesaikan setelah Agus melakukan riset ECU ke bengkel resmi Toyota. “Gigi kayak cari posisi yang pas, makanya saya aneh, kayaknya enggak se-lemot itu juga di rpm bawah. Tapi sekarang sudah normal,” sambung dia.

Sementara itu menurut Humas KTCI, Rizal Gozal, belakangan memang juga ada sejumlah foto yang sempat menghebohkan jagat maya yang mempertanyakan kekokohan Calya. Yakni foto-foto kaca belakang Calya yang mudah pecah, dan juga ban Bridgestone Ecopia yang tiba-tiba menggelembung pada bagian samping.

Terkait hal itu, Rizal mengatakan, anggotanya tak pernah mengalami kasus kaca pecah, kecuali masalah ban. Tetapi dia menyebutnya sebuah kewajaran. “Wajar saja kalau ada produk satu atau dua cacat produksi. Tapi, kalau ban begitu (gelembung) kan mengejar harga dan pihak produsen bertanggung jawab untuk mengganti dengan yang baru,” ujarnya.

Suspensi belakang yang belakangan sempat dituding ambles saat membawa muatan penuh juga ditampiknya. Kata dia, bobot suspensi Calya itu maksimal 550 kilogram, kalau lebih dari itu pasti tidak nyaman. "Itu tak mengganggu kenyamanan," katanya. (one)

Bajaj Qute, pengganti bemo, mulai sliweran di jalanan Jakarta. Lihat pengalaman VIVA.co.id menjadi supir Bajaj Qute dan anterin penumpang imut. Hanya di OtoVIVA.