Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 22 September 2017 | 13:17 WIB
  • Penjualan Grand Livina Terus Melorot, Kenapa?

  • Oleh
    • Toto Pribadi,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Penjualan Grand Livina Terus Melorot, Kenapa?
Photo :
  • VIVAnews/Herdi Muhardi
All New Nissan Grand Livina.

VIVA.co.id – Persaingan mobil Multi Purpose Vehicle (MPV) semakin panas di Tanah Air. Banyak produk yang sempat tenar, pelan namun pasti mulai tercecer, karena diduga tergusur produk-produk baru. Salah satunya mobil MPV andalan Nissan, Grand Livina.

Dari data penjualan perbulannya, Grand Livina memang terus menurun. Data Gaikindo menyebutkan penjualan pada Juli tercatat hanya 699 unit dan Agustus semakin mengecil jadi 415 unit.

Padahal, saat masih jaya, Grand Livina menjadi penyumbang terbesar penjualan Nissan di Indonesia. Sejak pertama diluncurkan hingga 2014, penjualan Grand Livina mampu menyentuh angka 20 ribuan hingga 35 ribuan unit pertahunnya.

Namun, angka itu melorot mulai 2014 yang di tahun itu hanya mampu terjual 15 ribuan. Lalu pada 2015 hanya terjual delapan ribuan dan tahun lalu (2016) hanya terjual lima ribuan unit. Tahun ini pun, hingga bulan Agustus, penjualan Livina baru menyentuh 4.984 unit.

Lalu, apa yang membuat penjualan mobil MPV cita rasa sedan dari Nissan ini terus menurun? Budi Nur Mukmin selaku General Manager Marketing and Strategy Nissan Motor Indonesia (NMI) juga menyadari jika penjualan Livina tak semoncer dulu.

“Sebenarnya tidak melulu dipengaruhi oleh hadirnya produk baru, jadi ada hal lain yang membuat customer mempertimbangkan (membeli Livina). Misalnya sisi layanan after sales, atau mungkin ketersediaan diler,” ujarnya kepada VIVA.co.id.

Menurutnya, jika diler jauh dari rumah, customer pun akan enggan membeli produk mereka. Selain itu penyebab penjualan MPV tujuh penumpang andalan Nissan ini terus menurun, karena masih banyak calon customer yang menilai harga spare part Nissan itu mahal.

“Sebenarnya, kalau dari sisi spare part tidak bisa dibilang mahal yah, dibandingkan dengan kompetitor harganya kompetitif. Cuma masalahnya customer tidak tahu, jadi dianggap spare part Nissan mahal, nah edukasi yang seperti ini yang terus kita genjarkan,” katanya.