Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 23:47 WIB
  • Mobil Listrik Mestinya Bukan (Lagi) Wacana

  • Oleh
    • Maryadie
Mobil Listrik Mestinya Bukan (Lagi) Wacana
Photo :
  • VIVA.co.id/Maryadie
Toyota TJ Cruiser yang direncanakan akan bermesin hybrid.

VIVA – Isu mobil listrik kembali moncer di tengah digelarnya Tokyo Motor Show, Jepang akhir Oktober 2017. Sebelumnya di tanah air mengemuka lagi ketika Presiden Jokowi pada akhir Juli lalu menyatakan komitmennya untuk pengembangan mobil listrik ini. Alasannya, klasik karena perubahan global dan ketiadaan dampak buruk pada lingkungan. Draft Peraturan Presiden pun telah disiapkan.

Sejurus dengan Jokowi, Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam beberapa kesempatan juga sangat yakin terhadap kendaraan ramah lingkungan ini harus dilaksanakan. Terlebih, karena energi fosil terus mengalami penyusutan serta produksi minyak Indonesia yang terus turun, Lalu pertanyaannya, apakah semudah itu kampanye mobil listrik akan berhasil. 

Toyota sebagai pioner mobil listrik dengan teknologi hibrida masih sangat yakin dengan teknologi electric vehicle.  Namun harus didasari pada kebutuhan dan permintaan konsumen. 

Executive Vice President Toyota Motor Corporation, Didier Leroy mengatakan, konsumen adalah pintu paling penting untuk pengembangan kendaraan listrik. "Kebutuhan dan harapan konsumen menjadi kunci utamanya," katanya di tengah-tengah acara Tokyo Motor Show. 

Executive Vice President Toyota Motor Corporation, Didier Leroy

Leroy bercerita dulu orang tidak percaya teknologi hybrid akan bisa berkembang. "Tapi lihat sekarang, kami menguasai 43 persen pasar mobil ramah lingkungan. Sebab masyarakat harus tahu dulu manfaatnya," ujarnya. Leroy meyakini Toyota sangat mampu untuk mewujudkan ini, asalkan ada permintaan konsumen.

Hal yang sama juga diungkapkan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono di Tokyo, Jepang. Kata dia ada beberapa syarat penting untuk pengembangan mobil listrik. 

Yakni dari sisi konsumen memang menginginkan mobil listrik. Lalu membangun rantai pemasok komponennya, serta dealer yang bagus yang bisa memastikan kehandalan kendaraan. "Setelah itu baru peraturan pemerintah," katanya. 

Jika itu semua sudah siap, Toyota akan mampu menyediakan produknya dalam jumlah besar. "Jadi bukan hanya sekedar peraturan pemerintah saja, kalau tidak ada yang mau membeli, bagaimana?" ujarnya.

Selain itu, kata Warih, penting untuk membangun society mobil listrik. Ketika ini sudah terbangun, masyarakat lain tentunya akan percaya bahwa teknologi ini memang lebih baik dan mereka mau menggunakannya. Sulit juga jika masyarakat belum percaya. Tapi ini wajar, karena mereka belum merasakannya. 

Executive General Manager Toyota Astra Motor  Fransiskus Suryopranoto menambahkan, jika memang regulasi mobil listrik sudah dikeluarkan pemerintah, Toyota akan mendukung kebijakan itu. 

Sebab saat ini mobil semi listrik seperti teknologi hybrid secara harga masih tergolong tinggi mengingat aturan pajak yang belum berpihak pada mobil ramah lingkungan. "Kami intinya menunggu pemerintah dan siap mendukung itu," ujar Suryo.

Meskipun ATPM sudah mendukung, sayangnya road map mobil listrik dari pemerintah belum jelas betul. Sehingga wajar jika masyarakat masih bertanya-tanya soal wacana ini. Begitu juga jika produsen mobil listrik masih gamang..  

Semoga saja pemerintah tidak lagi "menjual" kata "akan" untuk mobil listrik.