Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 19 Oktober 2017 | 16:14 WIB
  • Builder Top Jepang Akui Indonesia Jadi Surga Motor Custom

  • Oleh
    • Toto Pribadi,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Builder Top Jepang Akui Indonesia Jadi Surga Motor Custom
Photo :
  • Jeffry Yanto Sudibyo/VIVA.co.id
Kompetisi Motor custom di Makassar.

VIVA – Jepang tak hanya dikenal sebagai negara industri otomotif, tapi juga menjadi kiblat bagi para builder yang hobi dengan custom motor termasuk di Indonesia. Namun ternyata, orang Jepang sendiri mengakui bahwa Indonesia kini lebih subur dibanding Jepang untuk urusan hobi motor custom.

Hal itu diungkapkan Hideki Hoshikawa, seorang builder kondang asal Negeri Sakura tersebut. Menurut builder Asterisk Custom Works yang menjadi tamu Kustomfest 2017 ini peminat motor custom di Indonesia terus menjamur dari tahun ke tahun.

"Indonesia saya lihat berkembang dari tahun ke tahun sampai saat ini, untuk model custom tidak terlalu berubah dari tahun ke tahunnya. Perbandingan custom culture yang ada di Indonesia saat ini seperti custom culture yang ada di Jepang beberapa tahun lalu,” katanya kepada VIVA.co.id.

Sebaliknya, lanjut Hideki, peminat motor custom di Jepang sendiri justru kini beralih dari anak muda ke orang tua. Bahkan, menurut Hideki, kalau menunggangi motor custom imagenya kurang baik di Jepang.

"Di Jepang memang minat motor custom sudah berkurang. Tapi motor-motor custom yang dijadikan para builder Jepang banyak sekali yang dikenal di seluruh dunia,” tuturnya.

Oleh sebab itu, untuk berbisnis bengkel motor custom di Jepang juga kurang menjanjikan. "Untuk bisnis menjadi builder sepertinya kurang menjanjikan kalau secara jujur biayanya lebih tinggi dari pada hasil yang didapat," katanya.

Hal senada juga dikatakan, Kaichiro Kurosu, builder Cherry's Company yang pernah terpilih oleh BMW dalam projek custom R Nine T. Menurutnya, Indonesia saat ini, anak mudanya sangat bersemangat menumbuhkan dunia custom berbeda dengan Jepang yang saat ini.

"Di Indonesia anak mudanya sangat bersemangat dalam budaya custom ini, menggandrungi budaya ini berapi-api. Tapi di Jepang kebalikannya loyo kurang digandrungi dan banyakan peminatnya bapak-bapak yang umurnya sudah kepala tiga," katanya.

Menurutnya, keadaan di negaranya ini berbeda saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama pada tahun 1980-an. Kata dia, pada zaman itu banyak sekali anak muda di negaranya yang menyukai motor custom.

"Kalau sekarang menurun (anak muda minat dengan motor custom) karena kebanyakan pilihan misalnya games,” katanya.