Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 12 September 2017 | 12:24 WIB
  • Bahaya Pasang Iklan Berjalan di Motor

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Bahaya Pasang Iklan Berjalan di Motor
Photo :
  • Istimewa
Iklan motor berjalan.

VIVA.co.id – Belakangan ada satu fenomena baru dalam dunia advertising, yakni penggunaan kendaraan sebagai sarana iklan. Cara ini merupakan model konvensional yang mulai kerap dipergunakan para agen periklanan mensiasati mahalnya bujet sebuah iklan billboard.

Tren iklan pada kendaraan atau dikenal car advertising sebenarnya dimulai pada awal 2015. Ini dimulai sebuah startup bernama Wrapify di Amerika Serikat yang mengajak para pengemudi untuk menjadikan kendaraannya sebagai media iklan berjalan.

Melihat besarnya potensi, bisnis tersebut kemudian terus berkembang hingga masuk ke Indonesia. Para agen iklan menawarkan pemilik kendaraan dengan komisi yang dihitung berdasarkan jarak tempuh kendaraan. Tak
cuma mobil, banyak pula motor yang digunakan sebagai media iklan berjalan.

Namun, di luar sisi positif adanya peluang dana tambahan yang bisa diperoleh masyarakat, ada juga kekhawatiran akan keselamatan di jalan raya. Mengingat jalan raya merupakan tempat di mana pengemudi butuh konsentrasi penuh. Apalagi iklan dengan sepeda motor, menggunakan box persegi di behel belakang, dan selalu menempel saat berkendara.

Menurut Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu, bentuk iklan apa pun pada kendaraan dapat menghilangkan unsur keamanan dan keselamatan. Sebab iklan dapat mempengaruhi banyak pengguna jalan.

"Karena kecelakaan motor di jalan raya itu 80 persen disebabkan hilangnya konsentrasi. Jika pengguna motor dalam satu detik saja melihat iklan tersebut, sama saja dia jalan 60 kilometer per jam sepanjang 17 meter dalam keadaan mata tertutup," ujarnya saat berbincang dengan VIVA.co.id, Senin 12 September 2017.

Dia juga menyoroti penggunaan box di bagian buritan motor memiliki ukuran lebih tinggi dari posisi duduk pengendara. Hal itu dinilai sangat berbahaya, apalagi jika motor tengah berkelak-kelok di padatnya lalu lintas, dapat membuat pengendara lain terluka.

"Dalam konteks iklan meski dimensinya sesuai, tapi atraksi yang timbul menarik perhatian orang lain sehingga menjadi distraksi," tuturnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer KarAds, I Made Harta Wijaya, penyedia jasa iklan luar ruang yang fokus di mobil pribadi mengatakan, iklan pada kendaraan merupakan bentuk kreativitas yang saat ini mulai dilirik banyak pihak. Meski demikian, dirinya tak menampik jika iklan berjalan di sepeda motor tak aman bagi pengendara maupun pengguna jalan lainnya.

Kata Made yang juga pendiri KarAds, mobil lebih aman digunakan sebagai media iklan berjalan karena tak menimbulkan risiko.

"Kalau kreativitas memang, tapi kalau motor itu sedikit tidak natural kalau kita bilang. Karena harus menambahkan sesuatu di belakangnnya (box persegi dan lampu LED). Dan tidak safety bagi pengendara, berbeda dengan mobil hanya menggunakan stiker," ujarnya.