Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 8 Oktober 2017 | 12:42 WIB
  • Susahnya Motor 'Customize' RI Mengaspal di Luar Negeri

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Susahnya Motor 'Customize' RI Mengaspal di Luar Negeri
Photo :
  • VIVA.co.id/Jeffry Yanto
Kustomfest 2017 di Yogyakarta.

VIVA.co.id – Pertumbuhan dunia motor customize bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, Jepang dan negara lainnya, tapi di Indonesia juga. Saat ini, pameran dan bengkel motor yang melayani modifikasi sangat menjamur, sehingga menghidupkan industri kecil lainnya.

Seperti diketahui, untuk 'membangun' sebuah motor bukanlah hal yang mudah dan melibatkan banyak tenaga kerja. Sang builder atau modifikator berperan sebagai desainer yang membuat konsep motor yang akan dimodif. 

Sementara itu eksekusinya, seperti pembuatan tangki, perombakan sasis, pengerjaan jok, pengelasan dan banyak hal lainnya, dilakukan oleh tenaga ahli di masing-masing bidang. .

Direktur Kustomfest Lulut Wahyudi, yang juga seorang builder berharap, ada juga sentuhan pemerintah dalam perkembangan industri ini. Karena mempunyai peluang besar untuk menambah devisa negara di masa depan. 

Diapun menceritakan pengalamannya berkecimpung di dunia modifikasi motor sejak beberapa tahun lalu. Motor customize Indonesia pun dikatakannya telah dilirik dunia Internasional.

“Saya terpaksa bercerita, sekitar delapan tahun yang lalu saya mendapatkan order dari Australia, dia (buyer) datang setelah melihat karya saya di salah satu majalah. Dia terbang khusus ke Jogja dan bertanya berapa harga membangun satu unit motor customize dengan mesin Harley Davidson,” ujarnya saat konferensi pers Kustomfest di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Minggu, 8 Oktober 2017.

Namun dia mengeluhkan, sangat susah kata konsumennya itu untuk ekspor mesin atau suku cadang yang ingin dipakai ke Indonesia. Hal itu jelas menghambat perkembangan industri ini ke depannya. 

“Kata dia (konsumen) kita cari jalan keluarnya, akhirnya kita sepakat saya buat lima motor customize ciri khas saya utuh hidup nyala kemudian tidak menggunakan mesin. Dan mesin Harley yang dia mau nantinya tinggal dibelikan lagi di Australia, jadi frame, bodi, kaki-kaki saya yang buat,” tuturnya.

“Karena mereka bilang (Bea Cukai) ini motor meskipun tidak ada mesin walaupun dokumen itu sudah mati harus ditunjukkan,” sambungnya.   

Kendala itu menurutnya sangat disayangkan. Terlebih lagi, momen itu membuktikan bahwa karya anak bangsa sudah mendapatkan pasar di dunia internasional.

"Sekarang motor hasil karya saya sudah ada di Australia setelah dikawinkan dengan mesin Harley Davidson yang dia punya dan bisa disuratkan di sana," katanya.

Dia berharap, pengalaman ini bisa sampai ke pemerintah. Sehingga semakin banyak modifikasi karya Indonesia mengaspal di jalanan negara-negara lain. 

“Ini pentingnya sebuah kesadaran pemerintah, kalau Anda berbicara dengan saya yang hanya punya kekuatan untuk membuat motor customize berapa unit per-tahun. Tapi kalau Anda tanya ke teman-teman builder lainnya kita bisa berhimpun bersama dan menjual hasil karya kita ke luar negeri dan menghasilkan devisa untuk negara,’ ujar builder Retro Classic Cyles itu.