Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 2 Desember 2017 | 10:20 WIB
  • Terjang Banjir Tinggi, Buka Kaca Mobil dan Lepas Seatbelt

  • Oleh
    • Krisna Wicaksono,
    • Yunisa Herawati
Terjang Banjir Tinggi, Buka Kaca Mobil dan Lepas Seatbelt
Photo :
  • Dinas Sosial Aceh Singkil
Mobil terseret arus banjir bandang di Aceh Singkil, Aceh, pada Rabu, 8 November 2017.

VIVA – Memasuki musim hujan, banjir menjadi momok menakutkan bagi pengemudi kendaraan roda empat. Apalagi jika pengendara melalui jalanan yang banjir.

Service Operation Manager Plaza Toyota, Muhammad Iqbal mengatakan, saat pengemudi terjebak banjir, yang harus dilakukan pertama kali adalah hindari kecepatan tinggi.

"Selain menghindari ciprataan air ke pengendara lain, manfaat lainnya mencegah piring rem dan kanvas rem agar tidak basah, yang akan menyebabkan rem licin dan blong," kata Iqbal kepada VIVA.

Setelah melewati jalan banjir, pengemudi harus mencoba kinerja rem hingga tiga kali. Jika rem dapat berjalan normal, maka pengemudi bisa melanjutkan dengan kecepatan tinggi.

Saat melewati genangan banjir, jangan terlalu menepi, karena jarak antara aspal dan bahu jalan tidak akan terlihat. Sebaiknya arahkan kendaraan lebih ke tengah.

Ia menyarankan untuk mematikan AC sementara waktu, sampai sudah melewati area banjir. AC yang hidup akan menambah beban kerja mesin.

"Lalu, posisi gigi terendah dan setengah kopling. Selain menghindari aqua planing, juga mencegah terjadinya mati mesin. Tambahkan gas sampai sekitar 2500 rpm, jangan sampai di bawah 1500 rpm," tuturnya.

Terpisah, Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Jawa Tengah, AKBP Leganek mengatakan, apabila mobil mengambang di jalan yang sedang dilanda banjir. Ia menyarankan pengemudi membuka semua pintu, agar mobil tenggelam dan ban dapat traksi maju.

"Dilarang menggunakan sabuk pengaman. Kaca dibuka untuk jaga-jaga kalau harus evakuasi keluar mobil. Yang paling aman, kalau ada banjir segera berhenti. Lebih baik menunggu daripada terseret arus atau kesetrum listrik PLN bocor," kata dia.