Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 17:47 WIB
  • Marlina si Pembunuh Kembali ke Indonesia

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Bobby Agung
Marlina si Pembunuh Kembali ke Indonesia
Photo :
  • Istimewa
Marlina The Murderer in Four Acts

VIVA – Sebelum sampai di Indonesia, sinema terbaru garapan Cinesurya dan Kaninga Pictures berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak telah melanglangbuana ke berbagai festival film mancanegara. Kini, ia kembali ke Tanah Air.

Kisah dimulai di Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan lakon Marlina (Marsha Timothy), janda dari pria bernama Topan. Masih berkalut duka, tiba-tiba ia disambangi gerombolan pria jahat yang diketuai oleh Markus (Egi Fedly).

Para penjarah hendak merampok harta Marlina, khususnya hewan-hewan ternak. Lebih dari itu, konon tak hanya sekadar aset saja yang mereka incar.

Tahu bahwa sang tuan rumah adalah janda, libido para penjarah lantas tak terbendung untuk menidurinya. Marlina punya pilihan tersendiri atas malam tersial dalam hidupnya tersebut: membunuh para penjahat, kabur, lalu lapor polisi.

Pagi hari, Marlina bergegas ke kantor polisi sambil membawa kepala Markus yang semalam dipenggal. Dalam perjalanan, ia bertemu sahabatnya, Novi (Dea Panendra) yang tengah hamil tua.

Lewat perjalanan menguras hati, kedua perempuan itu punya tujuan masing-masing yang berkaitan dengan hidupnya. Satu mengantar kematian, lainnya menyambut kehidupan baru.

Masalah tak berhenti sampai di sini karena salah satu rekan Markus, Franz (Yoga Pratama), masih hidup dan memburu sang pembunuh kelompoknya. Marlina masih berada dalam bahaya.

Penguras hati 

Pada situs Variety.com, Marlina disebut sebagai film bergenre Satay-Western pertama di dunia. Ini terjadi karena pihak penggarap mengusung genre Western dengan baur unsur kearifan lokal yang terekam sepanjang durasi.

Film Marlina melibatkan beberapa poin menyoal perkara di Indonesia yang saat ini masih jadi momok mengerikan. Ya, kekerasan di pelosok daerah yang tak tersentuh oleh hukum.

Adapun hukum yang ditegakkan, ia bahkan belum cukup membuat warga sekitar aman dari gangguan pihak luar. Hal itu digambarkan oleh Marlina yang berjuang mencari keadilan seorang diri dari babak ke babak.

Ada pula kandungan moral lain dalam Marlina, yakni kesetaraan gender. Pesan tersebut begitu kuat disampaikan dan memberi referensi segar dalam penokohan sebuah film yang biasanya terkotakan oleh laki-laki sebagai lakon, dan perempuan sebatas pemanis.

Tak luput, eksotisme Sumba kemudian dikemas secara rapi lewat sinematografi yang memukau. Hal ini tidak cuma menguatkan Marlina dari aspek cerita, melainkan latar tempatnya.

Menaruh judul versi internasional Marlina the Murderer in Four Acts, film ini berusaha menyajikan kontemplasi reflektif akan banyak hal meski tak mampu mengantar penonton pada satu gerbang genre. Simak perjalanan Marlina mengarungi bukit ke bukit dengan bawaan berupa kepala Markus pada 16 November 2017 mendatang di bioskop-bioskop Indonesia.