Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 19 Oktober 2017 | 16:30 WIB
  • Yongki Dibunuh, Tulus Kampanye #TemanGajah

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Mohammad Yudha Prasetya
Yongki Dibunuh, Tulus Kampanye #TemanGajah
Photo :
  • VIVA.co.id/Danar Dono
Tulus

VIVA – Penyanyi Tulus mengaku telah kehilangan sahabatnya bernama Yongki, yakni seekor gajah yang menjadi bintang tamu saat tampil di video klip Gajah miliknya.

Ironisnya, kabar kematian Yongki yang dibunuh karena diambil gadingnya itu, diketahui Tulus saat ia mendapatkan penghargaan karya album terbaik untuk album 'Gajah', di malam perhelatan Anugerah Musik Indonesia 2015.

Oleh karenanya, pada  2016, Tulus bersama WWF-Indonesia pun akhirnya menggagas kampanye #JanganBunuhGajah, demi menyelamatkan populasi gajah-gajah Sumatera tersebut.

Pada 2017 ini, Tulus pun melanjutkan kampanye tersebut dengan hashtag #TemanGajah, demi menyelamatkan populasi Gajah Sumatera yang kondisinya sudah sangat kritis menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

"Saya ingin melakukan suatu kontribusi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu keberadaan gajah ini. Akhirnya saya dan WWF buat kampanye #TemanGajah di tahun 2017 ini," kata Tulus saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis 19 Oktober 2017.

Di samping itu, Tulus juga melakukan penggalangan dana yang nantinya akan dialokasikan untuk membeli 20 kalung satelit GPS, yang akan dipasangkan kepada gajah-gajah liar Sumatera tersebut sebagai pendeteksi keberadaan mereka saat berada di wilayah hutan.

Nantinya, kampanye #TemanGajah dan penggalangan dana ini akan menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk para siswa dari tingkat SD, SMP sampai dengan SMA.

"Gunanya kalung pendeteksi itu adalah biar kita tahu polanya dia (kawanan gajah) gimana sampai akhirnya dia bisa berada di suatu tempat. Nantinya kita akan bisa prediksi, sehingga kita bisa membantu mengurangi kontak mereka dengan manusia," kata Tulus.

"Jadi kalau suatu saat dia (kawanan gajah) itu mengubah pola (pergerakan)nya, itu juga bisa ketahuan dengan pendeteksi itu. Sehingga bisa kita halau agar tidak mendekati wilayah-wilayah (pemukiman manusia) yang bisa menimbulkan kontak dengan mereka," tuturnya.