Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 17:40 WIB
  • Jodoh Wasiat Bapak: Tali Misterius Pengaduk Kopi

  • Oleh
    • Beno Junianto
Jodoh Wasiat Bapak: Tali Misterius Pengaduk Kopi
Photo :
  • anteve
Jodoh Wasiat Bapak

VIVA – Marta seorang gadis anak dari Bu Mirah yang mempunyai usaha warung kopi di kampung Kucrit. Marta yang suka merongrong ibunya, Mirah sangat kesal saat tahu usaha warung kopi ibunya sepi dan nyaris bangkrut, sampai ibunya niat mau tutup warung kopi itu dikarenakan sepi pembeli, padahal pemasukan mereka dari warung kopi itu.

Marta kesal, karena enggak bisa beli barang-barang keperluan dia. Hingga Marta bertemu dengan temannya yang lagi baca sebuah buku tentang ilmu gaib, salah satunya tali pocong penglaris yang bisa buat laris usaha seseorang. Hal ini bikin Marta jadi ada ide buat bikin penglaris warung kopi ibunya dan ambil alih warung kopi milik ibunya.

Sinta yang kebetulan salah satu warga kampung Kucrit baru saja meninggal dunia. Marta nekad sengaja ambil tali pocong almarahum Sinta, hingga membuat geger warga dan suaminya Topik. Adam, Pak Rt dan warga curiga jika orang yang ambil tali pocong ini pasti dibuat enggak bener dan mereka mau cari tahu siapa yang ambil.

Sementara itu, Marta yang menggunakan penglaris tali pocong buat dicampur di dalam kopi pembelinya, nampak senang karena usahanya jadi laris dan ramai pengunjung, bahkan Bisma, Emilpun jadi ketagihan. Njum kesal, karena sejak Marta yang jaga warung kopi bu Mirah usaha jamunya jadi sepi dan enggak ada yang beli.

Bu Mirah kaget saat dia enggak sengaja buang tali pocong yang disimpan sama Marta, malah dia buang ke tong sampah. Marta yang keceplosan kalau itu tali pocong dan buang penglaris warung kopi. Marta takut ibunya buka mulut mengurung ibunya di gudang. Mama Adam coba mengunjungi rumah Bu Mirah saat tahu dari Adam kalau Bu Mirah sakit dan nggak bisa jaqa warungnya.

Arwah Sinta terus mendatangi dan meneror Marta untuk dikembalikan tali pocongnya. Marta nggak mau dan coba berusaha melawan arwah Sinta, hingga dia jatuh dan tertimbun tumpukan sampah. Marta menyesal dan mengakui perbuatannya dan minta maaf sama Opik dan ibunya, karena menggunakan tali pocong Sinta buat penglaris. Tapi azab tetap datang bertubi-tubi, saat Marta mau dikubur, ada hujan es batu dan tanah kuburannya tiba-tiba hancur tertiban pohon.