Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 17 November 2017 | 11:08 WIB
  • Suami Bangkrut, Artis Cantik Taiwan Kejar Setoran?

  • Oleh
    • Finalia Kodrati
Suami Bangkrut, Artis Cantik Taiwan Kejar Setoran?
Photo :
  • Toggle
Vivian Hsu

VIVA – Pernikahan Vivian Hsu dengan pengusaha keturunan Indonesia, Sean Lee diterpa isu tak sedap. Kabarnya, perusahaan sang suami mengalami masalah keuangan, dan nyaris bangkrut. Hal ini membuat Vivian Hsu, yang menetap di Singapura, harus rela bolak-balik ke Taiwan untuk menjadi artis lagi.

Vivian tampak mengejar setoran. Ia terlibat empat syuting iklan. Meski terlihat lelah, Vivian tampil di acara Bioessence. Menurut media Taiwan, Vivian mengambil banyak pekerjaan untuk membantu masalah keuangan di keluarganya. Kabarnya, perusahaan sang suami, Marco Polo Marine berada di ambang kebangkrutan. 

Vivian memang memutuskan untuk kembali menjalani kegiatannya sebagai artis. Ia menerima banyak pekerjaan seperti iklan dan menyanyi untuk bulan ini. 

Namun, seperti dilansir dari Toggle, Jumat 17 November 2017, Vivian membantah hal tersebut. Keputusannya kembali ke dunia artis untuk dirinya sendiri. Ia bersikeras dalam hidupnya tak ada istilah beristirahat. 

Vivian sendiri memulai kariernya di dunia hiburan sejak usia 14 tahun. Ia mengaku akan bekerja di dunia glamor ini hingga usia 70 tahun. 

"Wanita harus selalu memiliki karier sendiri, karena kepuasan yang didapat darinya berbeda dengan pengakuan yang didapatkan dari suami dan anak. Ini adalah bentuk kebahagiaan yang sangat berbeda," katanya. 

Mantan kekasih Vanness Wu ini menjelaskan bahwa dengan bekerja membuat seseorang menjadi lebih kuat. Ia melanjutkan bahwa keputusannya bekerja berjam-jam, bukan karena sang suami yang sedang menghadapi kesulitan keuangan.

"Saya tidak tahu soal bisnis, dan saya tidak dapat berbicara atas namanya. Yang bisa saya katakan, dia adalah seseorang yang pekerja keras dan berbakti," ujarnya tersenyum.

Laporan terbaru menyatakan bahwa Marco Polo Marine memiliki utang sebesar NT$5,5 miliar, atau setara dengan Rp2,3 triliun.