Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 14 Oktober 2017 | 20:17 WIB
  • Pengakuan Guruh soal Soekarno Larang Rock and Roll

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Bimo Aria
Pengakuan Guruh soal Soekarno Larang Rock and Roll
Photo :
  • VIVA.co.id/Bimo Fundrika
Archipelago Festival 2017

VIVA.co.id – Kabar bahwa pemerintahan Presiden Soekarno anti dengan musik yang bernuansa Barat dan musik cengeng tentu bukan isapan jempol belaka. Kala itu, Bapak Pendiri Bangsa Indonesia tersebut memang menentang segala bentuk baru dari kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme termasuk propaganda melalui musik. 

Anggota Koes Bersaudara jadi saksi hidup. Grup yang gemar membawakan musik Rock and Roll atau dalam bahasa Soekarno 'ngak ngik ngok' sempat mendekam di penjara pada 29 Juni 1965. Namun hal ini kemudian menjadi pro dan kontra.

Guruh Soekarnoputra yang merupakan bungsu dari pernikahan Soekarno dan Fatmawati justru dikenal sebagai komponis dan legenda hidup musik Indonesia. Ditemui pada Archipelago Festival, adik dari Megawati Soekarnoputri ini menceritakan perjalanannya menjadi pemusik termasuk pengalaman bermusik dalam keluarga.
 
"Boleh (main musik). Saya dan kakak saya main band. Rock and roll yang enggak boleh, pop boleh, rock and roll itu kan dansanya twist, terutama buat ceweknya pada waktu itu," ungkap Guruh Sabtu 14 Oktober 2017. 

Guruh melanjutkan, bahwa kala itu alunan dan gaya musik rock and roll masih belum bisa diterima oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Hal ini karena menurutnya, musik rock and roll cenderung kebarat-baratan. 

"Waktu saya masih kecil, lihat cewek ngerokok aja anggapannya begitu. Dan Bung Karno ingin supaya enggak begitu. Indonesia saat itu baru saja merdeka," ungkap Guruh. 

Pada saat itu, lanjut Guruh, Indonesia sedang dalam revolusi setelah merdeka. Oleh karena itu konsep yang perlu ditanamkan oleh Bung Karno ialah nation character building sebagai pondasi kebangsaan. Hal itu yang juga menjadi salah satu penyebab Bung Karno menolak musik dari Barat.