Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 05:42 WIB
  • Cerita Endank Soekamti Garap Album ke-8 di Raja Ampat

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Mohammad Yudha Prasetya
Cerita Endank Soekamti Garap Album ke-8 di Raja Ampat
Photo :
  • Yudha Prasetya
Personel grub band Endank Soekamti, Ari, Erix dan Dory.

VIVA – Grup musik punk rock asal Yogjakarta, Endank Soekamti, merilis album barunya yang ke-8 dengan tajuk 'Salam Indonesia'. Frontman sekaligus vokalis Endank Soekamti, Erik Soekamti, menjelaskan album ini dirilis dengan konsep box-set, yang disertakan dengan sejumlah merchandise lain khas Endang Soekamti.

"Di album Endank Soekamti yang ke-8 ini, 'Salam Indonesia', konsepnya kami membuat sebuah box-set yang isinya banyak sekali collectible item seperti CD album berisi audio 16 lagu, lalu ada buku foto dan buku cerita tentang proses rekaman album ini di Papua," ujar Erik saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis malam, 9 November 2017.

Dia menceritakan tentang proses pengerjaan album ‘Salam Indonesia' ini, yang direkam dalam perjalanan 30 hari di sebuah kapal phinisi dengan mengelilingi Papua.

"Album ini dibuat selama 30 hari perjalanan kami mengelilingi Papua. Semuanya kami lakukan di sana, dari tulis lagu, liriknya, semua kami lakukan di Papua," kata Erik.

Cerita di Raja Ampat 

Pembuatan album bertajuk 'Salam Indonesia' ini dilakukan selama dua minggu penuh di atas sebuah kapal phinisi.

"Selama dua minggu kami jelajahi Raja Ampat dulu ya. Itu kan luas, orang kan tahunya hanya Wayag, padahal gede banget Raja Ampat itu. Jadi selama dua minggu itu kami menyelesaikan proses recording-nya," ujar Erik.

Personel grub band Endank Soekamti, Ari, Erix dan Dory.

Dia mengaku sulitnya signal telepon selama di atas kapal membuat proses rekaman menjadi lebih efektif.

"Ternyata lebih produktif karena di sana enggak ada sinyal. Jadi kami fokus di situ," ujarnya.

Setelah dua minggu proses rekaman musik rampung, perjalanan dilanjutkan ke Manokwari, bagian barat Papua melewati lautan Pasifik. Singgah di sebuah tempat, kru menemukan penyu belimbing yang terbesar di dunia.

"Penyu itu kalau kawin di Hawaii, bertelurnya itu di situ dan lahirnya di situ juga. Makanya ya ini namanya penyu Indonesia," kata Erik.

Erik menjelaskan, selain melakukan proses rekaman album ke-8 Endank Soekamti, perjalanan selama 30 hari yang dilakukan selama bulan puasa ini pun mempunyai misi mengajar anak-anak di pedalaman Papua.

Dia mengaku, begitu banyak pengalaman dan kenangan yang didapatinya dari perjalanan yang menghasilkan album 'Salam Indonesia' tersebut.

"Perjalanan kami lanjutkan lagi ke Manokwari, terus sampai ke Kwantisore. Di perjalanan itu kami juga mampir ke kampung-kampung di sana untuk mengajar. Jadi kalau untuk rekaman outdoor, ini yang kedua kalinya buat Endank Soekamti. Tapi kalau untuk ke Papua, ini baru pertama kali dan kenangannya itu sangat luar biasa," ujarnya.

Erik menjelaskan, pengerjaan album Endank Soekamti dengan melakukan rekaman di alam terbuka ini juga pernah dilakukan di album sebelumnya, dengan memilih tempat di Gili Sudak, kawasan Lombok.

Erik pun mengaku akan menggilir wilayah Indonesia lainnya untuk pengerjaan album-album Endank Soekamti selanjutnya.

"Nantinya kami akan giliran ke Maluku juga dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya kami suka liburan," ujar Erik. (ase)