Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 07:52 WIB
  • Musik Batang Hari Sembilan Sumsel Minim Generasi Penerus

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Aji YK Putra (Palembang)
Musik Batang Hari Sembilan Sumsel Minim Generasi Penerus
Photo :
  • VIVA.co.id/Aji YK Putra (Palembang)
Ali Goik Depati, Praktisi irama Batang Hari Sembilan.

VIVA – Seperti provinsi lain di Indonesia, Sumatra Selatan memiliki begitu banyak kekayaan, mulai dari hasil bumi hingga tradisi dan budayanya. Begitu juga dengan musik yang menjadi ciri khas di bumi Sriwijaya ini.

Namun, salah satu musik di Sumsel, yakni Batang Hari Sembilan, saat ini terancam punah dikarenakan minimnya generasi penerus untuk melestarikannya.

Musik Batang Hari Sembilan sendiri dimainkan hanya menggunakan gitar klasik dengan stem Los. Memang, untuk bisa memainkannya membutuhkan waktu belajar yang tidak sebentar, yakni hingga tiga tahun lamanya. 

Selainsulitnya mempelajari musik tersebut, para pemain musiknya juga kini hampir seluruhnya sudah berusia lanjut.

Ali Goik Depati, praktisi irama Batang Hari Sembilan mengatakan, alunan musik Batang Hari Sembilan dimainkan bukan hanya sebagai pengiring irama lagu. Pantun jenaka juga menjadi pengiring musik ini.

“Jadi tidak monoton. Kalau biasanya musik mengiringi lagu, Batang Hari Sembilan juga diselipkan pantun jenaka," kata Ali kepada VIVA di Palembang, baru-baru ini.

Biasanya, sambung Ali, musik itu sering digunakan untuk mengisi acara tertentu, seperti pernikahan atau acara besar lainnya.

"Namun, yang bisa memainkan irama Batang Hari Sembilan hanya hampir sudah berumur. Termasuk saya. Memang sulit untuk menguasai," ujarnya.

Padahal kesulitan itu semestinya menjadi nilai jual tinggi untuk dipromosikan menjadi musik khas Indonesia asal Sumatra Selatan hingga ke mancanegara. Lagi-lagi minimnya perhatian untuk musik daerah oleh pemerintah menjadi kendala sendiri bagi para seniman.

“Kalau di luar ada jazz, kita punya Batang Hari Sembilan. Ini semestinya jadi nilai jual, tetapi wadah untuk berkreasi sangat kurang diberikan pemerintah untuk mempromosikan musik daerah," katanya.

Ali pun nantinya berencana akan mengolaborasikan musik Batang Hari Sembilan dengan Disk Jockey (DJ) agar para anak muda berminat untuk belajar musik khas Sumsel tersebut.

“Tidak bisa dipungkiri, zaman now harus diikuti. Kami berencana untuk memadukan dengan DJ atau jazz bisa juga blues sehingga menarik para anak muda untuk belajar," ujarnya.

Sementara itu, Dwiki Dharmawan, Ketua Umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI) menambahkan, seluruh musik daerah mempunyai gaya masing-masing yang menjadi ciri khas. Irama Batang Hari Sembilan sendiri merupakan salah satu musik yang berpotensi besar mencari market para penggemarnya.

"Seperti di Indonesia Timur, Ambon mempunyai style sendiri. Bahkan marketnya sudah menyebar sampai ke luar (negeri). Kita juga ingin musik Sumsel seperti itu," kata Dwiki di kesempatan yang sama. (ase)