Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 14 November 2017 | 16:34 WIB
  • Tak Kasat Mata: Misteri Rumah Kentang

  • Oleh
    • Zahrotustianah
Tak Kasat Mata: Misteri Rumah Kentang
Photo :
  • ANTV
Tak Kasat Mata ANTV

VIVA – Mimin (24 tahun) seorang Asisten Rumah Tangga yang bekerja di sebuah rumah mewah milik pasangan muda, Leo dan Lisa. Leo dan Lisa mempunyai anak tunggal berusia 5 tahun bernama Adit. Sesuai dengan usianya, Adit sangat aktif dan tak pernah mau diam. Ia selalu berlari, berteriak, dan sangat senang bermain bola. Mimin yang pada dasarnya tidak menyukai anak kecil dan tidak sabaran, selalu menganggap Adit anak yang nakal.

Suatu hari Leo dan Lisa akan mengadakan pesta syukuran atas rumah baru mereka. Mimin diberi tugas memasak dan menyiapkan semuanya. Mimin pun bekerja memasak, membereskan rumah sembari mengasuh Adit. Ketika itu Mimin sangat sibuk memasak menyiapkan sayur kentang, sementara Adit bermain bola di tengah rumah. Beberapa kali bola mengenai perabotan yang sudah disiapkan Mimin hingga pecah berantakan. Mimin yang sangat jengkel mencubit Adit hingga menangis. Adit mengamuk membuat Mimin semakin marah dan mendorong keras Adit hingga terjatuh dan kepalanya terbentur ujung meja hingga meninggal dunia.

Mimin panik melihat anak majikannya meninggal. Saat itu air dalam kuali untuk membuat sayur kentang sudah mendidih. Mimin langsung memiliki ide gila untuk menghilangkan jejaknya. Ia memasukkan jenazah Adit itu ke dalam air rebusan kentang. Ketika malamnya pesta dimulai, Mimin menghidangkan sayur kentang itu ke Leo, Lisa, dan tamu-tamunya. Leo dan Lisa tak sadar kalau mereka telah memakan daging anaknya sendiri. Mereka tidak curiga karena Mimin mengatakan kalau Adit sudah tidur. Leo dan Lisa yang sibuk menyambut tamu-tamunya tak sadar dengan hilangnya anak mereka.

Fatma dan Gendis datang diundang Leo dan Lisa. Saat Gendis akan mengambil sop kentang, tiba-tiba ia mendapat penglihatan Mimin yang sedang memarahi Adit. Gendis mencoba keras melanjutkan penglihatan mata batinnya. Kembali Gendis melihat Mimin yang memukul Adit secara kasar. Setelah itu Gendis melarang Fatma mengambil sop kentang dan menyuruhnya pulang. Fatma yang kebingungan menurut saja. Saat mau pulang, Gendis berpapasan dengan Mimin. Mimin menunduk saat Gendis melihatnya dan buru-buru menghindar. Gendis merasa ada yang tak beres pada Mimin. Ia lalu mengajak Fatma pulang.

Esoknya Mimin pura-pura panik kalau Adit menghilang tak ada di kamarnya. Leo dan Lisa langsung melapor ke polisi. Sementara itu Mimin berpura-pura menangis histeris seakan ia sangat sedih kehilangan Adit. Polisi mencari Adit kemana-mana dan tak menemukannya. Leo dan Lisa sangat terpukul kehilangan anak tunggal mereka. Mimin yang berpura-pura stres menangis memohon berhenti kerja dengan dalih merasa bersalah. Mimin lalu pergi.

Mimin kebingungan karena ia tak ada duit untuk ongkos pulang kampung. Lalu ia melihat warung Denok banyak pengunjung dan Denok saat itu kewalahan melayani pembeli yang membludak. Mimin lalu menawarkan diri bekerja di Warteg. Denok senang lalu menerima Mimin dan mengajak Mimin tinggal di rumah kontrakannya.

Tapi malam itu Mimin ketakutan karena arwah Adit mulai menghantuinya.  Denok juga panik dan heran karena ada arwah anak kecil yang sering muncul di malam hari. Denok mencurigai kalau arwah itu berkaitan dengan kehadiran Mimin di rumahnya. Sementara itu Gendis juga heran ketika Beno dan Mira mempunyai teman seorang anak kecil juga. Tapi ketika Gendis ingin berkenalan, anak itu (adit) lari menghindar. Gendis heran melihatnya.

Warga pun bergunjing karena selalu mencium wangi sayur kentang di malam hari ketika melewati rumah Leo-Lisa. Malah penampakan arwah Adit sering terlihat di rumah itu. Sementara Gendis juga penasaran siapa anak kecil yang bermain dengan Beno dan Mira. Memang setelahnya anak itu tak pernah lagi terlihat bersama Beno dan Mira. Gendis curiga kalau Adit adalah anak yang berteman dengan Beno dan Mira. Beno sendiri bilang kalau anak itu pernah bercerita kalau ia tinggal di Jalan Dhamawangsa.

Gendis lalu mendatangi rumah itu. Ketika sampai di sana ia mencium bau sayur kentang. Gendis lalu masuk ke dapur dan tersentak ketika melihat kuali besar tempat memasak. Gendis langsung mendapat penglihatan kalau disitulah tempat Adit meninggal. Gendis menangis sedih dan bercerita ke Fatma.

Sementara arwah Adit terus menteror Mimin. Mimin selalu histeris dan sangat ketakutan ketika melihat arwah Adit. Denok yang tinggal bersama Mimin menjadi takut dan membawa Mimin ke rumah sakit tempat Fatma dan Nurma bekerja. Dokter menyimpulkan Mimin terganggu jiwanya dan harus dikurung di ruang isolasi. Fatma dan Nurma yang ditugaskan menjaga Mimin ikut stres karena Mimin selalu histeris penuh ketakutan. Di ruang isolasi Mimin terus berteriak-teriak dan minta ampun. Mendengar itu Fatma bercerita pada Gendis. Gendis menyimpulkan kalau Mimin-lah yang membunuh Adit.

Sementara itu arwah Adit kembali mendatangi Mimin. Apa lagi arwah Adit datang sambil membawa sop kentang yang berkuah darah kepada Mimin. Mimin sangat ketakutan dan berhasil kabur dari ruang isolasi. Tak sadar Mimin lari ke arah kuburan dan terjatuh ke dalam liang lahat yang disiapkan untuk mengubur jenazah keesokan harinya. Dan anehnya saat itu tanah berguguran dan mengubur Mimin hidup-hidup. Mimin pun mati mengenaskan. Keesokan harinya ketika rombongan keluarga hendak mengubur mayat saudaranya, mereka sangat terkejut melihat Mimin ada di dalam liang lahat.

Keesokannya Gendis mengajak polisi ke halaman rumah Lisa-Leo. Di sana mereka menemukan bungkusan berisi tulang belulang dan tengkorak Adit. Leo dan Lisa sangat terpukul atas kematian anak tunggalnya itu.