Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 11:54 WIB
  • Lamia Rasidi, Pebasket Cantik dengan Gelar S2 dan Pengusaha

  • Oleh
    • Satria Permana
Lamia Rasidi, Pebasket Cantik dengan Gelar S2 dan Pengusaha
Photo :
  • VIVA/Ikhwan Yanuar
Lamia Rasidi

VIVA – Tubuhnya terbilang imut untuk seorang pebasket. Namun, itu tak menghalangi sosok Lamia Rasidi untuk berkiprah di pentas basket profesional bersama klub Merpati Bali.

Mia (sapaannya) baru bergabung bersama Merpati Bali pada musim 2017. Ada fakta menarik yang menyelimuti bergabungnya Mia ke Merpati Bali.

Gadis cantik 26 tahun tersebut ternyata menjadi satu-satunya pemain yang memegang gelar S2 di klub Merpati Bali.

"Saya mulai kuliah S1 pada 2009 di Universitas Gadjah Mada, jurusan psikologi. Lulus tepat waktu, empat tahun. Langsung melanjutkan ke program studi manajemen, dengan konsentrasi enterpreneurship, hingga mendapatkan gelar MBA selama 1,5 tahun," kata Mia saat berkunjung ke redaksi VIVA.co.id.

Selama masa studi S1 dan S2, Mia juga meniti karier di basket profesional. Dia bergabung dengan klub Sritex Solo selama studi di Yogyakarta.

Hebatnya, selama meniti karier basket profesional dan mengenyam masa studi, Mia juga membangun sebuah usaha. Bidang usahanya tak lepas dari olahraga dan dibangun mulai 2009, saat dia baru menjadi mahasiswa.

Lamia Rasidi

"Bidangnya tak jauh dari olahraga. Saya menyediakan kinesiotape, semacam plester untuk otot yang saat ini sedang ramai digunakan di seluruh cabang olahraga. Usaha ini mulai dibangun saat saya ingin masuk kuliah dengan pemikiran, bagaimana cara mendapatkan uang tambahan tanpa minta ke orangtua," ujar Mia.

Dengan usahanya, Mia mendapatkan sebuah berkah. Dia sukses menjalin kerja sama dengan salah satu produsen kinesiotape asal Korea Selatan dan menjadi distributor utama di Indonesia.

Mia bercerita, sebenarnya sempat ada kesulitan membagi waktu antara studi, karier basket, serta usahanya. Namun, dia menemukan trik untuk membangun usaha, yaitu menjalin kerja sama dengan berbagai klinik fisioterapi.

"Kerja sama dengan klinik fisioterapi jadi keuntungan. Saya jadi hanya menetapkan model bisnisnya. Selain itu, saat sedang bermain atau berkumpul, bisa sambil pemasaran juga. Pendidikan tetap yang utama, tapi basket juga harus jalan," terang alumnus SMAN 70 Jakarta itu. (one)