Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 30 Agustus 2017 | 17:23 WIB
  • Indonesia Gagal di SEA Games 2017 Gara-gara Salah Strategi

  • Oleh
    • Riki Ilham Rafles
Indonesia Gagal di SEA Games 2017 Gara-gara Salah Strategi
Photo :
  • SEA Games 2017
Logo SEA Games 2017

VIVA.co.id – Kegagalan kontingen Indonesia di SEA Games 2017 memenuhi target perolehan medali emas mendapat sorotan. Perencanaan dan persiapan yang buruk dituding sebagai penyebab utama.

Jelang keberangkatan, kontingen Indonesia ditargetkan mendapatkan setidaknya 55 medali emas. Namun yang terjadi saat ini hanya 38 emas yang bisa dibawa pulang dari ajang dua tahunan tersebut.

(Baca juga: Gagal Penuhi Target, Perjuangan Atlet Tetap Diapresiasi KOI)

Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI), Djoko Pekik Irianto, menilai kegagalan ini dikarenakan buruknya strategi perencanaan yang dibangun. Mulai dari tak adanya skala prioritas hingga dana yang tersendat.

"Harusnya Satlak Prima punya strategi alternatif supaya mendorong cabor (cabang olahraga) potensi untuk menggantikan cabor unggulan kita yang hilang. Harus ada skala prioritas," tutur Djoko kepada VIVA.co.id, Rabu 30 Agustus 2017.

"Prioritas atlet yang potensi itu harus ada. Anggaran juga harus dilebihkan agar latihannya tidak konvensional. Jangan lagi para atlet dan pelatih memikirkan hal seperti itu (dana macet). Mereka harus berpikir bebas," imbuhnya.

Djoko menambahkan, selama masa persiapan kontingen, Satlak Prima juga terlihat bekerja sendiri. Tidak ada kontrol terhadap program-program yang mereka buat, sehingga strategi yang diterapkan belum jitu.

(Baca juga: Klasemen Medali SEA Games 2017, Target Indonesia Meleset)

Ditambah lagi, pada akhir-akhir keberangkatan kontingen muncul polemik akan adanya pemotongan kuota keberangkatan ofisial. Banyak cabor yang mengeluhkan kondisi tersebut.

Munculnya masalah itu tak lepas dari perubahan kebijakan Satlak Prima dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dari yang awalnya hanya atlet berpotensi emas yang berangkat, sampai akhirnya ditambah dengan potensi perak.

"Kajian tidak matang dari awal. Kalau ada pengiriman yang berangkat dengan dana sendiri itu sebenarnya saya tidak setuju. Ini urusan negara jadi semuanya harus difasilitasi," ujar Djoko. (ren)