Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 September 2017 | 15:48 WIB
  • Kepercayaan Diri Berlebih RI Jadi Bumerang di SEA Games 2017

  • Oleh
    • Satria Permana,
    • Donny Adhiyasa
Kepercayaan Diri Berlebih RI Jadi Bumerang di SEA Games 2017
Photo :
  • VIVA.co.id/Dhana Kencana
Pelari Singapura Soh Rui Yong (kiri) dan pelari Indonesia Agus Prayogo (kanan) berfoto bersama usai menyentuh garis finish marathon SEA Games 2017 di Precint 3 Putrajaya, Malaysia, 19 Agustus 2017.

VIVA.co.id – Atletik menjadi salah satu cabang olahraga yang diunggulkan bisa mendulang medali di SEA Games 2017. Maria Londa, Agus Prayogo, dan sejumlah atlet lain, diharapkan bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Tapi, kenyataan bicara sebaliknya. Para unggulan Indonesia justru performanya tak sesuai harapan.

Mereka gagal meraih emas. Beberapa atlet Indonesia yang tak diunggulkan malah memberikan prestasi bagus.

Rapat evaluasi SEA Games 2017 yang digelar di kantor Kemenpora, siang tadi, menyajikan sejumlah fakta menarik. Salah satunya adalah penyebab teknis mengapa target atletik bisa gagal di SEA Games.

"Kondisi yang dialami oleh atletik adalah di mana wakil andalan marathon, Agus Prayogo, hanya mendapatkan perak. Singapura yang justru secara mengejutkan meraih emas. Kelemahan kami adalah membaca kekuatan lawan, terlalu percaya diri dengan kondisi sendiri," kata Wakil Ketua Komite Olahraga Indonesia, Muddai Madang, Senin 4 September 2017.

"Lalu, Maria Londa juga di luar dugaan. Lompatannya cuma 6,4 meter. Kenapa bisa begitu? Diandalkan, performa justru menurun," lanjut dia.

Susunan lomba juga menjadi alasan lain mengapa atlet Indonesia gagal bersaing di cabor atletik. Biasanya, marathon atau lari jarak jauh lainnya akan dilaksanakan di akhir SEA Games.

Namun, pada perhelatan SEA Games 2017, justru marathon jadi yang pertama. "Ini kan tak ada aturannya. Tapi, membuat kondisi atlet kurang maksimal karena harus berlaga di luar kebiasaannya," terang Muddai.