Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 29 Juni 2017 | 07:11 WIB
  • PBSI Beberkan Strateginya Perangi Kasus Pencurian Umur

  • Oleh
    • Donny Adhiyasa
PBSI Beberkan Strateginya Perangi Kasus Pencurian Umur
Photo :
  • ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Suasana latihan Pelatnas bulutangkis PBSI di Cipayung, Jakarta

VIVA.co.id – PP PBSI kini terus berupaya meningkatkan kualitas proses pembinaan atlet sejak dini. Salah satunya dengan fokus membenahi dan pemberantasan praktek pencurian umur yang dilakukan dengan memanipulasi data kelahiran atlet.

Merujuk pada hal tersebut, PP PBSI telah meluncurkan program pemutihan yakni dengan proses pengampunan bagi mereka yang mengaku dan mengoreksi data kelahiran sebenarnya. Atlet yang membuat pengakuan secara tertulis selama masa pemutihan, akan dibebaskan dari sanksi. Hingga saat ini, sudah 111 atlet yang mengikuti program pemutihan.

Program ini tertuang berdasarkan Surat Keputusan No SKEP/021/0 3/III/2017 tertanggal 31 Maret 2017 tentang Pemutihan Data/Usia Atlet, program ini berlaku selama tiga bulan sampai dengan tanggal 30 Juni 2017.

"Diharapkan semua pihak (Pengprov, Pengkab/Pengkot, Pengurus/Pelatih PB/Klub) untuk menyampaikan secara luas agar orang tua atlet yang ingin melakukan Pemutihan,  masih kami tunggu sampai dengan batas akhir yaitu tanggal 30 Juni 2017," ungkap Kepala Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi PP PBSI Rachmat Setiyawan dilansir Badminton Indonesia.

Ini merupakan kesempatan bagi para atlet untuk mengikuti pemutihan, karena tidak akan ada perpanjangan waktu. PBSI pun tak akan meluncurkan lagi program pemutihan karena telah membangun sistem database bernama SI (Sistem Informasi) PBSI yang mewajibkan verifikasi data atlet sejak awal sehingga data yang masuk telah tersaring.

"Bagi mereka yang tidak mengaku pada masa pemutihan ini, apabila terbukti data kelahirannya tidak benar, maka ia akan dikenakan sanksi skorsing, berikut dengan tuntutan pidana kepada para pihak terkait," tambahnya.

Oleh karena itu, PP PBSI menghimbau kepada atlet untuk memanfaatkan kebijakan ini sebaik mungkin.

"Sebaiknya jangan sampai ada yang 'wait and see' atau tidak yakin dengan ketegasan PBSI. Apalagi Ketua Umum bapak Wiranto juga sudah memerintahkan untuk melanjutkan program ini sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku," tambah Rachmat.