Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 3 Desember 2017 | 05:00 WIB
  • Pebulutangkis Legendaris PB Djarum Turun Gunung

  • Oleh
    • Edwan Ruriansyah
Pebulutangkis Legendaris PB Djarum Turun Gunung
Photo :
  • Djarum Foundation
Legenda PB Djarum, Sigit Budiarto dan Tri Kusharjanto

VIVA – Para pebulutangkis legendaris PB Djarum turun gunung. Mereka kembali tampil di lapangan dalam acara main bareng alias Mabar Djaruminton XIV di Tegal, Jawa Tengah, pekan lalu.

Para legenda yang hadir adalah Christian Hadinata, Lius Pongoh, Sigit Budiarto, Puri Setyo Prihngudiarto, Rendra Wijaya, Simbarsono, Ronald Sanduan Sipasulta, Simon Santoso, Meiliana Jauhari dan Reny Ardhianingrum. Para legenda dan pelatih PB Djarum ini membagi pengalaman dan teknik bermain bulutangkis kepada para peserta. Sedangkan Reny Ardhianingrum sebagai pelatih fisik, mengajarkan cara peregangan dan pemanasan yang benar sebelum bertanding.

Acara ini digelar sehari setelah Djarum Coaching Clinic di GOR Wisanggeni, Tegal. Puluhan peserta berpartisipasi dalam kegiatan yang juga dikenal sebagai Mabar Djaruminton ini.
 
Demi kecintaannya kepada bulutangkis, para anggota forum berdatangan dari berbagai kota dengan biaya swadaya masing-masing. Forum Mabar menjadi ajang silaturahmi para pesertanya yang selama ini lebih banyak berinteraksi di dunia maya. Mereka datang dari dari sejumlah kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Batang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan tuan rumah Tegal.
 
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menjelaskan, kegiatan Mabar di Tegal menjadi titik temu antara para pencinta bulutangkis dengan para legenda bulutangkis PB Djarum. “Dengan Mabar ini kita juga ingin menggelorakan semangat bulutangkis kepada masyarakat luas, khususnya di Tegal. Mudah-mudahan berdampak positif menumbuhkan kecintaan terhadap bulutangkis, khususnya oleh anak-anak muda,” tutur Yoppy dalam rilis Djarum.
 
Antusiasme peserta Mabar XIV Tegal ini terlihat sejak pendaftaran di forum. Hanya dalam waktu tiga hari, kuota peserta sudah langsung penuh.

Penyelenggaraan Mabar XII di kota Tegal bukan tanpa alasan. Kota Tegal yang berada jalur pantura Pulau Jawa ini memudahkan bagi anggota forum yang berada dari barat dan timur pulau.
 
Para peserta Mabar dibagi dalam empat grup berdasarkan kelompok umur. Grup Bitingan Lama menjadi kelompok paling senior. Di grup ini berkumpul peserta lebih dari umur 45 tahun. Grup Kaliputu memainkan kelompok umur 39-45 tahun. Di grup Petamburan tempat berkumpulnya peserta yang memiliki umur dengan rentang 30-38. Sementara Grup Jati merupakan kelompok pemain muda yang memiliki umur di bawah 38 tahun. Peserta termuda di Grup Jati, berusia 14 tahun.
 
“Ini tantangan tersendiri bagi saya sebagai peserta putri. Walaupun kami sebagai ganda campuran harus bertanding dengan pasangan ganda putra, tapi saya tetap semangat. Mudah-mudah di Mabar yang akan datang banyak peserta putri yang hadir,” tutur peserta bernama Dwita. Mahasiswi jurusan administrasi bisnis STIAMI Jakarta ini, akhirnya mampu menembus babak final di kelompoknya.
 
Setiap kelompok umur diikuti oleh 32 peserta. Para peserta tersebut kemudian diundi untuk mendapatkan pasangan. Sistem pengundian pasangan ini agar semua peserta berbaur dan saling mengenal. Pertandingan pun semakin menarik, karena dengan sistem undian pasangan maka kekuatan masing-masing pasangan menjadi sulit diterka. Peserta wanita tidak dibedakan dalam Mabar ini.
 
Acara Mabar ini semakin lengkap dengan diselingi acara coaching clinic dari para legenda bulutangkis Indonesia dan pelatih PB Djarum. Acara Mabar ini dilengkapi juga dengan sesi ekshibisi. Rendra Wijaya berpasangan dengan Simon Santoso menghadapi peserta Mabar pasangan Gatot/Lutfi yang berasal dari Batang dan Bandung.  Eksibisi kedua menampilkan Tri Kusharjanto/Ronald Sanduan berhadapan dengan peserta Mabar pasangan Ian Horison/Bagus dari Jakarta dan Tegal.
 
Acara eksibisi semakin meriah ketika Sigit Budiarto memasuki lapangan. Pasangan Tri Kusharjanto/Sigit Budiarto melawan tiga orang yang terdiri dari Ian Horison, Bagus ditambah dengan Ronald Sanduan. Tri/Sigit mengeluarkan pukulan-pukulan aneh seperti yang pernah mereka tunjukkan pada masa jayanya. Tak aneh, meski menghadapi tiga orang, Tri/Sigit tetap memenangkan pertandingan.
 
Sesi acara yang dinantikan selalu peserta adalah acara penutup. Peserta disuguhi berbagai kuliner khas kota tempat pelaksanaan Mabar. Makanan khas Tegal disajikan kepada peserta yang lelah bertanding sehari penuh. “Ini yang saya tunggu. Main boleh kalah, tapi makan barengnya harus ikut. Soalnya makanannya khas,” ujar salah satu peserta bernama Tora. Menurutnya, rangkaian acara Mabar ini berbeda dengan Mabar-Mabar lainnya. Ini bukan sekedar Mabar biasa.
 
Mabar Djaruminton Tegal ini merupakan yang ke-14 kali digelar sejak 2010. Sebelumnya Mabar I digelar di GOR PB Djarum Petamburan, Jakarta, pada 6 Februari 2010. Berturut-turut Mabar II Jakarta (GOR Djarum Petamburan, 10 Juni 2010), Mabar III Bandung (GOR Bikasoga, 9 Maret 2011),  Mabar IV Surabaya (GOR Sudirman, 12 November 2011), Mabar V Yogyakarta (GOR Among Rogo, 3 Maret 2012), Mabar VI Bandung (GOR Lodaya, 23 Juni 2012), Mabar VII Kudus (GOR Jati, 17 November 2012), Mabar VIII Tasikmalaya (GOR Lidya Djaelawidjaja, 23 Maret 2013), Mabar IX Cirebon (GOR Arena, 23 November 2013), Mabar X Solo (GOR Manahan, 1 Maret 2014 ) dan Mabar XI Purwokerto (GOR Satria, 20 Desember 2014), Mabar XII Magelang (GOR Djarum, 28 November 2015) dan Mabar XIII Lampung (14 Agustus 2016).