06-05-1992: Pidato Gorbachev soal Perang Dingin dan AS

Mikhail Gorbachev (kiri) dan Boris Yeltsin.
Sumber :
  • Reuters/Alexander Natruskin/Files

VIVA.co.id – Mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, menyampaikan pidato di Westminster College, Fulton, Inggris. Ia membahas soal berakhirnya Perang Dingin dan kritikan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Mengutip situs History, kehadiran Gorbachev di Inggris mengingatkan pada pernyataan mantan Perdana Menteri Winston Churchill pada 1946 di tempat yang sama, di mana ia sudah membaca perilaku Uni Soviet yang ingin "memagari" Eropa Timur.

Churchill lalu menyebutnya dengan "tirai besi", istilah yang ia berikan untuk Uni Soviet, dan mengatakan keberadaannya tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, muncullah istilah "Perang Dingin" yang artinya perang kepentingan melalui penyebaran ideologi.

Benar saja. Pada 1991, tepatnya 25 Desember, Soviet resmi bubar akibat "ulah" Gorbachev yang menerapkan “ideologi baru”, glasnost and perestroika.

Kembali ke Gorbachev. Dalam pidatonya ia menyatakan bahwa berakhirnya Perang Dingin berarti menghancurkan lingkaran setan yang membangkitkan akal sehat akan pentingnya demokrasi serta nilai-nilai kemanusiaan.

Satu sisi, ia mengakui sejumlah kebijakan Uni Soviet di masa lampau telah membuat "kesalahan serius". Tapi di sisi lain, Gorbachev juga menuding Amerika Serikat dan Inggris untuk menanggung semua "dosa" yang diperbuat Soviet.

Ia lalu mencontohkan perlombaan senjata nuklir, yang menurutnya sebuah kesalahan besar. Tak hanya itu, Gorbachev menuduh AS karena menjadi "inisiator" dari kebijakan "bodoh" itu.

Usai Perang Dingin, bagi Gorbachev bukan akhir dari segalanya. Ia mengingatkan AS untuk memperbaiki "kesalahan intelektual" yang menafsirkan runtuhnya Soviet adalah kemenangan bagi Paman Sam.

"Itu adalah konsep Perang Dingin yang sempit. Harusnya tidak ada lagi permusuhan namun kerja sama yang dibutuhkan," ujar Gorbachev.