Beban Listrik Saat Ramadan Menurun, Pasokan Aman Hingga Usai Lebaran

Wakil MEnteri ESDM, Arcandra Tahar.
Sumber :
  • Zahrul Darmawan/VIVA.co.id

VIVA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memastikan pasokan listrik pada saat hari raya Idul Fitri aman. Ia bahkan memprediksi, beban atau konsumsi listrik saat lebaran akan berkurang hingga H+7.

Hal itu diungkapkannya dalam kunjungannya ke gardu Induk Pusat Pengatur Beban (UIP2B) Gandul, Depok, Jawa Barat pada Kamis 23 Mei 2019. Ia mengungkapkan, kesiapan pasokan listrik sangat penting agar masyarakat bisa menikmati lebaran bersama keluarga dengan nyaman dan tenang.

“Untuk itu kami pastikan kehandalan dan ketersediaan suplai listrik selama Lebaran dalam kondisi cukup,” katanya.

Dia mengatakan, konsumsi listrik saat Lebaran nanti akan berkurang. Penurunan konsumsi listrik dimulai sejak H-7 hingga H+7. “Jadi mulai berkurang di H-7 dan puncaknya pas hari H,” tambahnya. 

Sementara itu, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat, Hariyanto WS menjelaskan, beban puncak listrik pada Idul Fitri lebih rendah dibandingkan hari kerja. Hal itu dikarenakan banyak industri yang berhenti beroperasi (libur). 

“Karena banyaknya Industri dan perkantoran yang libur, biasanya memang beban puncak menurun. Namun kami akan tetap pastikan suplai dan keandalan tetap terjaga,” katanya.

Berdasarkan pengalaman selama ini, beban puncak malam hari pada sistem kelistrikan nasional mengalami penurunan sebesar 29-31 persen. Sedangkan sistem Jawa Bali mengalami penurunan sebesar 56-60 persen.

“Jika mengacu pada perbandingan tersebut maka prakiraan kondisi pasokan tenaga listrik selama periode Idul Fitri tahun 2019 mulai dari H-7 sampai H+7 pada sistem kelistrikan Jawa-Bali, Sumatera, dan Indonesia Timur berada pada kondisi pasokan cukup,” paparnya.

Meski demikian, pihaknya akan tetap menyiapkan satuan tugas distribusi yang disebar ke seluruh wilayah. Hal itu untuk menjamin pasokan listrik dan antisipasi gangguan jaringan selama Ramadan hingga Lebaran. 

“Kami telah menetapkan masa siaga Lebaran dari H-15 sampai H+15 dengan membentuk Posko Lebaran yang beroperasi 24 jam. Walau pasokan listrik menurun, namun kehandalan sistem tetap harus dijaga,” ungkapnya. 

Hariyanto menambahkan, pada saat Lebaran, daya mampu netto pembangkit sistem Jawa-Bali sebesar 34.716 MW. Jumlah ini cukup untuk melayani beban puncak lebaran yang diperkirakan sampai 17.179 MW.

“Kemampuan pasokan daya mampu netto sebesar 34.716 MW, sedangkan daya mampu pasok sebesar 27.817 MW. Dan perkiraan beban puncak sebesar 17.179 MW, cadangan operasi sebesar 10.637 MW dan reserve margin sebelum 62 persen,” katanya.