Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 18 Juni 2019 | 23:34 WIB

Perang Dagang Disebut Bikin Biaya Pinjaman RI Meningkat Tajam

Team VIVA »
Raden Jihad Akbar
Fikri Halim
Foto :
Pertumbuhan ekonomi global

VIVA – Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Research Office atau disingkat AMRO, memaparkan, pasar keuangan global mengalami peningkatan volatilitas pada paruh kedua 2019. Terutama, akibat dari ketidakpastian perdagangan global yang salah satunya bersumber dari perang dagang Amerika Serikat dan China.

Kepala Ekonom AMRO, Hoe Ee Khor mengatakan, kombinasi dari peningkatan biaya pinjaman dan apresiasi nilai tukar terhadap dolar AS, menyebabkan penguatan tekanan keuangan di negara-negara berkembang. Khususnya, yang memiliki kerentanan struktural. Hal ini juga memicu aksi penghindaran risiko dan penjualan aset di pasar keuangan negara berkembang. 

Baca Juga

"Pengetatan kondisi keuangan global sangat terasa di Asia, khususnya di Indonesia dan Filipina, yang mengalami peningkatan biaya pinjaman secara tajam," ujarnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa 18 Juni 2019. 

Kendati begitu, dia memperkirakan kawasan ASEAN+3 (ASEAN Plus Jepang, China dan Korea Selatan) ke depan akan tetap solid. Meskipun risiko global mengalami peningkatan, khususnya di beberapa negara berkembang. 

Terpopuler

"Perlambatan siklus bisnis, penurunan siklus belanja teknologi dan modal serta berlanjutnya ketidakpastian ketegangan perdagangan global berpotensi menyebabkan pelemahan pertumbuhan global pada 2019-2020," kata dia. 

Menurutnya, bagi negara-negara yang bergantung pada perdagangan global, dampak negatif akibat perang dagang bisa jadi semakin nyata. Namun, sebagian besar negara-negara ASEAN+3 telah berupaya keras untuk memperkuat fundamental ekonomi masing masing. 

Sebagian besar, lanjut dia, juga masih berada pada pertengahan siklus bisnis. Di mana pertumbuhan ekonomi mendekati tren jangka panjang dan inflasi dalam kisaran target kebijakan. 

"Meskipun ruang kebijakan menyempit di sebagian besar negara kawasan, otoritas masih dapat memanfaatkan berbagai opsi kebijakan dan akumulasi buffer yang tersedia untuk memitigasi risiko dan mengelola ketidakpastian akibat saling keterkaitan ekonomi makro," tuturnya. 

Topik Terkait
Saksikan Juga
AS Picu Perang Dagang dengan Uni Eropa
TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu