Sri Mulyani Akui Pidato Visi Indonesia untuk Tarik Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan pidato Visi Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Minggu, 14 Juli 2019, merupakan usaha Presiden memberikan sinyal bahwa Indonesia siap untuk memperbaiki fundamental ekonomi agar arus investasi bisa kencang masuk. 

Menurut Sri Mulyani, kondisi perekonomian global yang pada tahun ini diperkirakan melambat 0,5 persen akibat perang perdagangan Amerika Serikat dan China, membuat pelaku usaha maupun investor cenderung mengurangi belanja modalnya atau investasi untuk memperluas usaha maupun meningkatkan produksi.

"Oleh karena itu, kita lihat short opportunity-nya, kita bagaimana siapkan itu. Tapi tidak seperti membalikkan telapak tangan. Investasi itu bukan sesuatu yang tiba-tiba masuk ke Indonesia, dia punya pandangan berbagai faktor fundamental," tutur Sri Mulyani dalam acara “Kajian Tengah Tahun Indef 2019” di Jakarta, Selasa 16 Juli 2019.

Dia mengatakan, jika dilihat dari berbagai indikator fundamental ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi yang konsisten tumbuh di atas lima persen, pengangguran terendah sejak 20 tahun terakhir, kemiskinan turun, hingga gini ratio yang terus mengecil, sebetulnya sudah kuat dan baik.

Namun, lanjut Sri, dari sisi struktural fundamental ekonomi Indonesia masih banyak yang perlu diperbaiki, seperti kecepatan dan kemudahan perizinan berusaha, infrastruktur yang menghubungkan antarwilayah hingga kompetensi sumber daya manusia masih perlu dibenahi lima tahun ke depan.

"Oleh karena itu, APBN kita sebagai instrumen fiskal selalu coba merespons kebutuhan, baik yang sifatnya situasional, jangka pendek untuk stabilisasi, namun juga harus mampu jadi faktor katalitis untuk hal-hal struktural tadi," tutur dia.

Karenanya, dia memastikan pengelolaan APBN dipastikannya akan sehat, kredibel, efektif, dan berkelanjutan supaya berbagai program yang ada dalam Visi Indonesia Jokowi lima tahun mendatang bisa diterjemahkan dengan baik dan konsisten demi menunjang investasi.

"Competitiveness dan productivity tergantung kualitas manusianya, tergantung kualitas infrastrukturnya, tergantung inovasi dan research, tergantung birokrasi, maka kita reform. Empat hal inilah yang akan kita tingkatkan," ujar dia.