Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 9 Maret 2019 | 18:09 WIB

Hujan di Tengah Musim Dingin Cairkan Lapisan Es di Greenland

Foto :
  • wired.com
Kawasan Greenland Diselimuti Es

Hujan menjadi lebih sering terjadi di Greenland dan mempercepat pencairan es di kawasan itu, berdasarkan penelitian terbaru.

Para ilmuwan mengaku terkejut saat mengetahui bahwa hujan terus turun bahkan di tengah musim dingin Artik.

Baca Juga

Lapisan es Greenland tengah dipantau dengan seksama karena menahan air beku dalam jumlah besar.

Dan jika semua es tersebut mencair, tinggi permukaan laut akan meningkat hingga tujuh meter, mengancam pusat-pusat populasi pesisir di seluruh dunia.

Terpopuler

Bintik-bintik air biasanya turun sebagai salju di musim dingin - daripada sebagai air hujan - yang bisa menyeimbangkan pencairan es yang terjadi selama musim panas.

Apa temuan ilmuwan?

Para ilmuwan mempelajari foto-foto lempengan es dari satelit yang menunjukkan area-area yang mengalami pencairan es.

Mereka lantas mengombinasikan semua foto tersebut dengan data yang dikumpulkan dari 20 stasiun cuaca otomatis yang merekam waktu terjadinya hujan.

Hasil temuannya, yang dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere, menunjukkan bahwa meski di masa-masa awal penelitian hujan terjadi dua kali selama musim dingin, angka tersebut meningkat menjadi 12 di tahun 2012.

Pada lebih dari 300 kejadian antara tahun 1979-2012, peneliti menemukan bahwa hujan memicu pencairan es.

Sebagian besar kejadian terjadi pada musim panas, ketika temperatur udara mencapai angka di atas nol derajat.

Namun peningkatan hujan terjadi justru pada bulan-bulan musim dingin ketika kegelapan total musim dingin di kutub diperkirakan dapat menjaga suhu udara tetap berada di bawah titik beku.

Apa yang terjadi jika hujan turun?

Penulis utama penelitian tadi, Dr Marilena Oltmanns dari pusat penelitian laut GEOMAR di Jerman, mengatakan kepada BBC News, "Kami terkejut bahwa terjadi hujan di musim dingin.

"Ini masuk akal karena kami melihat adanya aliran udara hangat yang naik dari selatan, namun tetap saja mengejutkan saat menyadari bahwa hal itu berhubungan dengan turunnya hujan."

Peneliti lain dalam studi tersebut, Prof Marco Tedesco dari Columbia University di New York, mengatakan bahwa peningkatan aktivitas hujan memiliki dampak penting.

Meskipun hujan turun di musim dingin, lalu es yang mencair kembali membeku, hujan tersebut mengubah karakteristik permukaan lapisan es, membuatnya lebih halus dan gelap, dan "dipersiapkan" untuk mencairkan es lebih cepat ketika musim panas tiba.

Semakin gelap es, semakin banyak panas yang terserap dari cahaya matahari - lalu membuatnya mencair lebih cepat.

"Ini membuka pintu ke suatu dunia yang amatlah penting untuk dipelajari," ujar Prof Tedesco.

"Dampak potensial atas perubahan yang terjadi di musim dingin dan musim semi terhadap apa yang terjadi pada musim panas harus dipahami."

Permukaan yang lebih halus, khususnya yang berbentuk `lensa es`, akan memudahkan cairan es mengalirinya lebih cepat dan menjadi lebih gelap, yang berarti semakin banyak cahaya matahari yang diserap, lalu mempercepat proses penghangatan.

Foto-foto yang diambil oleh tim peneliti Inggris, ketika terjebak hujan badai di antara lapisan es tahun lalu, menunjukkan betapa hamparan es dan salju yang terang dan menyilaukan berubah menjadi padang yang lebih gelap.

Mengapa ini penting?

Meskipun Greenland merupakan sebuah kawasan terpencil, sebuah pulau besar yang terletak di ujung utara Samudera Atlantik, nasib akan es yang menutupi seluruh kawasannya dapat memiliki dampak global yang besar.

Dulu, saat kondisinya stabil, turunnya salju di musim dingin akan menyeimbangkan volume es yang mencair atau es yang pecah dan terlepas ke lautan yang terjadi di musim panas. Namun penelitian menunjukkan bagaimana, dalam beberapa dekade terakhir, lapisan-lapisan es kehilangan semakin banyak massanya.

Meskipun hal ini hanya menyebabkan kenaikan permukaan laut yang tidak signifikan - di mana sebagian besar sisanya berasal dari ekspansi termal seiring penghangatan samudera - ketakutan utamanya adalah terjadinya percepatan aliran cairan es seiring meningkatnya suhu lingkungan.

Dua tahun lalu, BBC melaporkan dari Greenland terkait risiko semakin cepatnya pencairan es, karena pertumbuhan ganggang yang membuat warna es semakin gelap dan cenderung menghangat.

Dampak yang dibawa ganggang, selain penggelapan warna es, disebabkan oleh jelaga dan bentuk polusi lain yang terbawa angin ke Artik.

Hal ini muncul di tengah berkembangnya kekhawatiran bahwa kawasan tersebut secara keseluruhan menghangat dua kali lebih cepat dibandingkan kawasan lainnya di planet bumi, yang mungkin memengaruhi aliran jet stream , arus udara berkecepatan tinggi di ketinggian.

Hal ini dapat menggangu pola cuaca di Eropa dan kawasan lainnya, dan juga dapat menjadi penyebab aliran udara yang hangat dan lembap dari Atlantik mencapai Greenland, bahkan di tengah musim dingin.

Apa yang dilakukan ilmuwan lain terkait hal ini?

Profesor Jason Box, ahli glasiologi yang tidak terlibat dalam penelitian itu, menyatakan bahwa penelitian tersebut dilakukan berdasarkan penelitian lebih awal yang dilakukan ia dan rekan-rekannya yang sudah dipublikasikan tahun 2015 lalu, di mana mereka menemukan bahwa hujan musim panas dapat menaikkan tingkat pencairan.

Penelitian mereka menemukan bahwa karena air mengandung konten bersuhu hangat yang tinggi, maka hanya memerlukan curah hujan sebesar 14 mm untuk mencairkan salju setebal 15 sentimeter, bahkan ketika salju itu bersuhu di bawah 15 derajat Celsius.

"Ada ambang batas sederhana, titik cair, dan ketika suhu udara berada di atas angka tersebut, maka yang turun adalah hujan, bukan salju," ungkapnya.

"Maka, di tengah iklim yang semakin hangat, bukan hal yang aneh jika kita melihat lebih banyak hujan ketimbang salju, dan ini adalah alasan lainnya mengapa lapisan es mengalami defisit, alih-alih surplus."

Profesor Box mengalami sendiri ketika hujan badai tiba-tiba turun ketika ia tengah berkemah di atas lapisan es.

"Setelah berminggu-minggu terpapar sinar matahari, tiba-tiba hujan turun dan langsung mengubah total permukaan es - esnya menjadi lebih gelap.

"Dan saya teryakinkan, hanya dengan berada di sana dan melihat langsung dengan mata kepala saya sendiri, bahwa hujan sama berperannya dengan hari-hari dengan matahari terik dalam mencairkan lapisan es di Greenland."

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Katulampa Siaga III, Banjir dan Longsor Landa Puncak
TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu