Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 29 Oktober 2019 | 15:36 WIB

Terhalang Tabu Soal Seks, Kasus Kanker Payudara Meningkat

Foto :
  • bbc
Sobia bersiap untuk mammogram di Lahore. - BBC

Peningkatan kasus kanker payudara di Pakistan adalah yang tertinggi di Asia. Deteksi dini sangat penting untuk perawatannya, tetapi para ahli khawatir perempuan tak mau memeriksa diri karena adanya tabu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, setiap tahun ada 17.000 perempuan di Pakistan meninggal dunia karena kanker payudara. Jumlah tersebut lebih rendah dari 40.000 korban yang diklaim lembaga nonpemerintah dan dokter di negara itu.

Baca Juga

Menurut para ahli, satu dari sembilan perempuan Pakistan menderita penyakit ini, tapi tabu sosial budaya membuat mereka tak mencari pertolongan.

"Kanker payudara diasosiasikan dengan seksualitas perempuan sehingga dipandang sebagai tabu," kata Omar Aftab, dari lembaga Pink Ribbon Foundation.

Terpopuler

"Ketimbang melihatnya sebagai masalah penyakit, kanker payudara dipandang sebagai soal seksualitas".

Para penyintas kanker payudara menyatakan menderita penyakit itu adalah `jalan yang sunyi`.


Silvat Zafar - salah seorang penyintas kanker payudara di Pakistan - saat menjalani kemoterapi. - Silvat Zafar

Keluarga yang utama

Guru SD Silvat Zafar berusia 20-an ketika ia menemukan gumpalan di payudaranya. Ia memutuskan menyembunyikannya dari keluarganya.

"Di masyarakat kami, perempuan bungkam soal-soal pribadi," katanya.

"Saya tak bisa membicarakannya, karena ibu saya sudah meninggal dan saya satu-satunya perempuan di keluarga. Saya bungkam."

Ketika liburan keluarga, Silvat menyembunyikan gumpalannya yang tumbuh dengan memakai baju longgar. Ia juga tak bisa secara terbuka membicarakan rasa sakit menyiksa yang harus dialaminya.


Silvat Zafar saat berlibur di Disney World - ia tak bercerita kepada keluarhaya bahwa ia menemukan gumpalan di payudaranya. - Silvat Zafar

Ketika mendapat pertolongan enam bulan kemudian, kankernya sudah stadium 3. Ini artinya tumornya sudah besar dan berisiko menyebar ke badan. Namun pada stadium ini, perawatan masih bisa efektif.

Situasi Silvat ini kerap ditemui Dr. Huma Majeed salah satu ahli bedah payudara terkemuka di Pakistan. Ia mengelola klinik di Rumah Sakit Ittefaq Hospital di Lahore untuk merawat pasien-pasiennya.

"Perempuan selalu mendahulukan keluarga mereka," katanya Dr. Majeed.


Dr. Huma Majeed, salahsatu ahli bedah payudara di Pakistan menyatakan kesehatan perempuan berada dalam urutan bawah prioritas keluarga. - BBC

Malu soal bicara kanker payudara ini hanya salah satu masalah saja buat perempuan Pakistan. Banyak perempuan - juga suami mereka - yang tak mau diperiksa oleh dokter pria karena menyangkut bagian tubuh yang intim.

"Dalam masyarakat patriarkat seperti Pakistan, kesehatan perempuan berada di urutan bawah," kata Dr. Majeed lagi.

"Banyak perempuan tergantung pada anggota keluarga pria untuk membawa mereka ke perawatan - itu juga biasanya hanya tersedia di kota besar."

Jika perempuan harus melakukan perjalanan ke kota besar, seluruh anggota keluarga bisa jadi ikut bersamanya. Para pria harus libur kerja, dan ini mengurangi pemasukan keluarga.

Maka perempuan dengan latar belakang ekonomi miskin bisa jadi paling terpengaruh.

Sobia, 20 tahun, adalah pasien Dr. Majeed yang baru dioperasi untuk mengambil gumpalan yang ia temui beberapa bulan lalu. Tahun lalu, ayahnya meninggal karena kanker, maka Sobia berhenti sekolah dan kini bekerja sebagai guru untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya.


Sobia menjalani pemeriksaan pascaoperasi di Lahore. - BBC

Sobia menempuh perjalanan 2,5 jam menuju Lahore dari kotanya. Tak ada keluarga besarnya yang tahu ia kena kanker. Ia cuma berkata bahwa ia pergi untuk belanja keperluan pernikahan.

"Ini soal yang sensitif," kata Sobia. "Kami tak mendiskusikan anggota tubuh yang privat dengan orang lain," katanya.

"Terutama buat perempuan muda, lebih baik bagi mereka menyembunyikan penyakit karena kalau tidak, tak ada yang mau melamarmu. Di sini, tak ada yang mau menikah dengan perempuan yang menderita kanker payudara," katanya.

Ini terjadi pada Silvat Zafar. Sudah lebih dari satu dekade kankernya dinyatakan hilang, ia tetap belum menikah.

"Saya banyak mendapat lamaran menikah, tetapi ketika mereka tahu saya pernah kena kanker payudara - sekalipun sekarang sudah sembuh - mereka membatalkannya," kata Silvat.


Gedung Mahkamah Agung Pakistan diberi lampu warna dalam rangka menigkatkan kesadaran akan kanker payudara. - BBC

Bulan Oktober adalah bulan kampanye penyadaran kanker payudara di Paksitan dan Pink Ribbon Foundation sibuk berkampanye di Lahore dan Islamabad.

Yayasan ini didirikan 15 tahun lalu dan baru belakangan ini saja mematahkan tabu untuk bisa bicara soal kanker payudara secara terbuka.

Kampanye terbaru mereka menyasar perempuan muda. Mereka mengunjungi 200 sekolah di seluruh Pakistan untuk mengajarkan mereka diagnosa awal dan pentingnya memeriksa diri sendiri.


Penderita kanker payudara di kalangan perempuan muda dan remaja meningkat di Pakistan. - BBC

Kanker payudara meningkat di kalangan perempuan muda, dan beberapa penderitanya bahkan remaja.

Para ahli menduga penyebabnya adalah pola makan yang buruk, perkawinan campuran yang meningkatkan pewarisan beberapa jenis kanker, serta kurangnya perawatan para spesialis.


Pink Ribbon berkampanye di Punjab University di Lahore. - Pink Ribbon

Rencana sudah dimulai untuk membangun rumah sakit kanker payudara di Lahore. Rumah sakit ini akan dilengkapi perangkat medis terbaru, dan pelayanan satu pintu mulai dari diagnosis sampai perawatan.

Semua staf ini juga perempuan, dan direncanakan beroperasi musim panas 2020.

Namun dokter, lembaga non pemerintah dan pasien berharap sikap terhadap kanker payudara di Pakistan bisa segera berubah.

Dr. Majeed mengatakan kaum pria juga jadi sasaran, terutama karena masyarakatnya sangat patriarkis.

"Pria perlu dididik bahwa ini bukan hal yang tabu," kata Dr. Majeed. "Mereka wajib mendorong istri, anak perempuan, saudari dan ibu mereka untuk diperiksa".

Namun perubahan berjalan lambat dan pasien seperti Sobia masih takut untuk terus terang bahwa ia menjalani perawatan.

"Sikap harus berubah," kata Sobia. "Penderita harus didukung dan diberi motivasi, bukan dikritik."

Silvat Zafar berharap dengan berbagi cerita, ia bisa membantu perempuan untuk mencari pertolongan sebelum terlambat.

"Jangan takut," kata Silvat, "Ayo bangkit dan raih kemenangan."

*Beberapa nama di artikel ini bukan nama sebenarnya.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Maju Pilkada, Gibran Bicara Tentang Ambisi Politiknya!
TVONE NEWS - 12 jam lalu