Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Kamis, 23 Mei 2019 | 14:02 WIB

Dorong Jokowi-Prabowo Bertemu, Muhammadiyah: Ini Soal Waktu Saja

Team VIVA »
Dedy Priatmojo
Edwin Firdaus
Foto :
  • VIVA/ Lucky Aditya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.

VIVA – Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong Capres Joko Widodo dan Capres Prabowo Subianto segera bertemu, untuk menciptakan situasi yang kondusif pasca peristiwa 22 Mei 2019 yang menimbulkan kerusuhan. 

Menurut Haedar, pertemuan keduanya sangat penting untuk meredam eskalasi para pendukung kedua pihak.

"PP Muhammadiyah sejak awal, bahkan ormas-ormas Islam bertemu wakil presiden Jusuf Kalla menyampaikan imbauan dan ajakan agar Jokowi dan Prabowo bertemu," kata Haedar ditanyai awak media di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Mei 2019.

Haedar menegaskan, meski pernyataan telah dikeluarkan oleh kedua kandidat pilpres, baik Jokowi maupun Prabowo namun diharap dapat bertemu langsung antara keduanya. 

Selain untuk ciptakan suasana yang kondusif, pertemuan juga dinilai penting untuk menjalin silaturahim.

"Mungkin soal waktu saja (akan ketemu). Kemarin kita kan mendengar Presiden Jokowi menyampaikan pernyataan positif dan ajakan untuk situasi ini diakhiri, juga Prabowo bersama Sandi juga menyampaikan semua berdiri di atas konstitusi dan tidak boleh ada kekerasan, harus tetap damai," kata Haedar.

Dalam kesempatan sama, Haedar kemudian mengajak semua tokoh dan warga bangsa agar kembali pada titik berbangsa dan bernegara yang bersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Pilpres hanya bagian dari berekspresi dalam berpolitik dan demokratis

Baca Juga

"Perbedaan pilihan politik adalah hak demokrasi, dan kita semua harus saling menghormati," kata Haedar.

Haedar menekankan semua warga harus akhiri proses Pemilu 2019 ini dengan kearifan dengan tanggung jawab dan kedewasaan, sikap cerdas dan bersatu kembali sebagai keluarga besar bangsa. Hentikan semua bentuk kekerasan dan tindakan anakis yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

"Sungguh mahal harganya manakala Indonesia mengalami eskalasi kerusuhan dan anarki karena persengketaan politik Pemilu 5 tahunan," ujarnya.

Ia menegaskan masih banyak masalah dan agenda nasional yang harus diselesaikan bersama untuk menuju Indonesia yang bersatu, adil, makmur dan bermartabat, serta berdaulat dan berkemajuan.

Karenanya, masih dalam kaitan tersebut, Muhammadiyah mengajak para tokoh agama, elite politik, pejabat publik, media massa, para netizen, dan warga bangsa untuk bisa sama-sama menciptakan suasana yang sejuk dan damai demi kerukunan dan persatuan nasional. 

Terpopuler

"Hendaknya bisa dihindari pernyataan-pernyataan dan tindakan yang dapat memanaskan dan memperkeruh keadaan yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Haedar.

Lagipula, lanjut Haedar, seharusnya media sosial dapat dijadikan penyaluran yang menciptakan suasana tenang, damai, bersatu, dan berkeadaban mulia. Bukan sebaliknya justru jadi tempat memproduksi hoaks, keresahan, tebar kebencian dan permusuhan sesama keluarga bangsa Indonesia.

 

Prabowo meminta pendukungnya untuk tidak melakukan tindakan kekerasan usai terjadinya kericuhan saat aksi 22 Mei. Lihat video pernyataannya di bawah ini:

Topik Terkait