Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 21 September 2019 | 06:23 WIB

Hai Pemerintah, Kami Sesak Napas dan Menderita Kena Kebakaran Hutan

Foto :
  • bbc
Mahasiswa turun ke jalan memprotes asap beracun yang mereka hirup karena kebakaran hutan. - BBC

Puluhan mahasiswa dan pelajar warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah turun ke jalan hari Jumat (20/09) menuntut penyelesaian segera kebakaran hutan yang telah mereka alami selama lebih dari 20 tahun.

Sebagian dari pengunjuk rasa yang memakai masker, membawa spanduk dan pengeras suara meneriakkan protes mereka.

Baca Juga

"Kalimantan kebakaran, Kalimantan kebakaran. Kami sesak napas. Kalimantan kebakaran, Kalimantan kebakaran. Kami menderita," teriak mereka saat turun ke jalan.


Protes di depan kantor gubernur Kalimantan Tengah Jumat (20/09). - BBC

Terpopuler

Unjuk rasa di Palangkaraya ini merupakan bagian dari protes jutaan anak muda di seluruh dunia dalam rangkaian unjuk rasa menuntut langkah diambilnya tindakan terkait perubahan iklim dunia.

Di Jakarta, protes serupa melibatkan sekitar 500 orang, yang antara lain meneriakkan "Revolusi energi! Pak Jokowi, dukung protes kami."


Sekitar 300.000 orang diperkirakan turun ke jalan dalam protes perubahan iklim di Melbourne, Australia. - Getty Images

Para pelajar di Eropa, sebagian bahkan tidak masuk sekolah, menuntut "diakhirinya zaman bahan bakar fosil dan keadilan iklim bagi semua orang". Anak-anak muda ini mendesak pemimpin di dunia agar segera bertindak untuk mengatasi dampak perubahan iklim demi generasi mendatang.

Di Palangkaraya, para demonstran juga melakukan aksi duduk di luar pagar kantor kantor gubernur, di bawah penjagaan puluhan polisi.

Poster-poster yang dipegang pemrotes di antaranya bertuliskan: "Udara sehat adalah hak asasi manusia; Cabut izin konsesi gambut; Kebijakanmu tidak jelas seperti kabut asap".

Pada Senin (16/09), kandungan partikel polutan yang disebut PM2,5 tercatat mencapai 1.413,4 mikrogram/m³, 20 kali lebih tinggi dari ambang batas normal polusi PM2,5 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebesar 65 mikrogram/m³.


Protes perubahan iklim di Bangkok, Thailand. - Reuters

Di beberapa tempat, bencana asap tahun ini "dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi pada saat yang sama di tahun 2015," kata Robert Field, ilmuwan Badan Angkasa Luar AS/NASA kepada AFP.

Tahun 2015 dipandang sebagai bencana asap terburuk dalam periode dua puluh tahun.

Gerakan dunia


Pengunjuk rasa muda di Bangkok, Thailand. - Getty Images

Demonstran yang melibatkan anak muda di sekitar 150 negara menekan pemerintah mengambil langkah mengatasi perubahan iklim.

Upaya ini digerakkan oleh pegiat lingkungan Greta Thunberg yang akan menghadiri protes di New York, Amerika Serikat.


Protes di Berlin, Jerman dilakukan di Gerbang Brandenburg. - Reuters

Sampai sejauh ini demonstrasi telah dilakukan di sejumlah tempat di Thailand, Australia, Inggris, Kenya dan Jerman.


Protes pelajar untuk perubahan iklim di Cambridge, Inggris. - PA Media

"Saatnya berubah. Ketika anak-anak bertindak seperti para pemimpin. Waktunya berubah," isi tulisan salah satu poster yang dibawa pelajar di Bangkok, Thailand.

Sementara pelajar di London, Inggris mengusung poster "Berhenti menyangkal bahwa bumi sedang sekarat".

Air nyaris habis


Pemadam kebakaran, relawan, hingga warga awam bahu-membahu memadamkan api di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. - BBC

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Tengah, Barat dan juga Riau, Sumatra disebut para pegiat lingkungan sebagai yang terparah sejak kebakaran besar pada 2015.

Pemerintah menyatakan telah menurunkan sekitar 29.000 petugas untuk memadamkan api, yang sebagian terbakar di lahan gambut.

Tetapi salah satu masalah yang dihadapi para petugas untuk mengatasi titik api adalah kekurangan pasokan air.

"Kesulitan kami yang terutama adalah sumber air. Jadi karena ini musim kemarau, Palangkaraya ini kering, sama sekali kering," tutur Zulkarnaen, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Palangkaraya, kepada BBC News Indonesia.

Selain sulitnya sumber air, sifat alami gambut kering yang mudah terbakar dan menyimpan bara di dalam rongga tanah, membuat pemadaman api memakan waktu yang lebih lama. Setiap titik setidaknya memerlukan waktu satu jam.

Sampai sejauh ini terdapat lebih dari 2.800 titik api terlihat di dua provinsi di Kalimantan, lapor kantor berita AFP.

Sekitar 250 orang telah ditangkap atas dugaan melakukan kegiatan yang menyebabkan kebakaran hutan.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Wisata Kawah Putih Ciwidey Kembali Dibuka untuk Umum
TVONE NEWS - 3 hari lalu