Petani Probolinggo Keluhkan Anjloknya Harga Tembakau

Seorang petani tembakau di Kabupaten Probolinggo, sedang melipat daun tembakau dan menjemur tembakaunya. (FOTO: Dicko W/TIMES Indonesia)
Sumber :
  • timesindonesia

Para petani di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengeluhkan anjloknya harga tembakau yang kini hanya mencapai Rp 32 ribu per kilogram.

Dari kondisi ini, petani tembakau terpaksa harus merugi karena tidak imbang dengan pembiayaan perawatan tembakaunya, serta mahalnya obat-obatan ditambah mahalnya harga pupuk.

Menurut Munir, salah satu petani, jika dibandingkan dengan harga tahun 2018 lalu, bisa mencapai Rp 38 hingga Rp 40 ribu per kilogramnya. Dan seharusnya pada masa awal panen seperti saat ini, harga tembakau cukup tinggi. Tapi yang terjadi harga tembakau malah anjlok.

“Dengan harga Rp 32 hingga Rp 34 ribu saat ini, tidak mampu menutupi besarnya biaya perawatan dan biaya pekerja. Kalau harganya Rp 38 ribu itu masih bisa ada untungnya, padahal ini sudah daun bagian tengahnya yang kita panen,” ujar Munir, Selasa (24/9/2019).

Menurut Munir, biasanya jika daun tembakau semakin ke atas panennya, harganya semakin mahal, namun kali ini harganya semakin merosot. Untuk harga daun bagian bawah, saat ini harganya Rp 24 hingga Rp 26 ribu per kilogram.

“Jika harga seperti ini sampai masa panen habis, maka kita sebagai petani tak bisa mengharapkan untuk dari tanaman tembakau tahun 2019 ini. Selain rugi tenaga, kita petani juga rugi segalanya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Kabupaten Probolinggo, Mudzakir mengungkapkan, harga tembakau saat ini memang tidak konsisten, harganya merosot yaitu Rp 34 ribu per kilogram.

“Seharusnya harga ituu harus di pertengahan bulan Oktober 2019, kalau sekarang harusnya harga itu masih lumayan tinggi, kasihan petani. Kami minta kepada pihak gudang untuk menaikan harga temabakau ini,” ujarnya.

Mudzakir menilai, salah satu pemicu anjloknya harga tembakau ini karena pihak gudang mengambil tembakau dari Situbondo, padahal seharusnya murni mengambil tembakau dari Kabupaten Probolinggo saja. Jika masih ambil tembakau dari luar, maka harga tembakau di Probolinggo tak akan pernah naikharganya, jauh lebih mahal dari tahun sebelumnya.