Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Selasa, 29 Oktober 2019 | 17:52 WIB

Ribuan Lubang Tambang Terbengkalai di Ibu Kota Baru

Foto :
  • bbc
Pegiat lingkungan menyebut terdapat nyaris 1800 lubang tambang di Kaltim. Sementara jumlah versi pemerintah hanya mencapai sekitar 500 lubang. - AFP/ROMEO GACAD

Setidaknya 36 orang, yang sebagian besar anak di bawah umur, meregang nyawa di lubang tambang bekas galian batu bara di berbagai wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) sejak 2011.

Pegiat lingkungan menyebut saat ini 1.735 lubang tambang dibiarkan menganga oleh perusahaan, meski mereka secara hukum wajib mereklamasi bekas galian setelah eksplorasi.

Baca Juga

Namun pemerintah mengklaim hanya menemukan sekitar 500 lubang tambang di provinsi yang bakal menjadi tuan rumah ibu kota baru itu.

Kini pemerintah berencana mengubah ratusan lubang tambang yang sebagian berjarak selemparan batu dari permukiman warga itu menjadi lokasi wisata.

Saat wacana itu dirembuk di level pemerintahan dan pemindahan ibu kota ke Kaltim juga akan segera berjalan, keluarga anak-anak yang tewas di lubang tambang masih terus mencari keadilan.

Kardi masih belum rela cucu pertamanya, Natasya Aprilia Dewi, menghembuskan napas terakhir di usia yang sangat belia.

Beberapa hari jelang Lebaran, 29 Mei silam, anak berumur 10 tahun itu tenggelam di lubang tambang sedalam puluhan meter di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda.

Dini hari itu usai salat subuh, kata Kardi, Natasya bersama sejumlah kawannya bermain di lubang tambang yang biasa disebut danau oleh warga setempat.

Padahal Natasya tak bisa berenang, kata Kardi. Begitu mendapat kabar dari tetangga bahwa Natasya tenggelam, Kardi langsung tunggang langgang ke lubang tambang.

"Di sana saya lihat cucu saya sudah mengambang di danau. Begitu saya angkat ke tepi, dia muntah darah," kata Kardi kepada BBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Saat mengisahkan kembali cerita pilu itu, mata Kardi nanar. Jari-jarinya memutar-mutar rokok kretek. Nada bicaranya terkadang meninggi.

Kardi berkata, setelah dilarikan ke rumah sakit, Natasya sempat sadarkan diri dan berbincang dengan sanak familinya. Namun jelang sore, Natasya koma dan tak pernah siuman lagi.

"Saya syok. Orang tuanya tidak sadarkan diri. Mereka mengamuk," ujar Kardi.

"Saya tidak tahu itu lahan siapa. Kalau lubang itu tidak ditutup, pasti kejadian ini akan ada lagi. Saya orang kecil, mau nuntut siapa? Mau salahkan siapa?" tanyanya.

Kepergian Natasya juga meninggalkan luka mendalam bagi ibunya, Purwanti. Tapi berbeda dengan Kardi, ia enggan mempersoalkan peristiwa itu lebih jauh.

"Pikiran saya tidak karuan. Malam itu kami masih tidur bareng. Sorenya dia sudah tidak ada," kata Purwanti.

"Itu jelang Lebaran. Dia ajak kami ke Ramayana, tapi ayahnya bilang hari Rabu saja. Ternyata Rabu sore itu dia meninggal."

"Saya minta dimimpikan anak saya, ingin sekali, tapi tidak ada. Mungkin di sana kehidupannya sudah lebih nyaman," ujarnya.

Saat berita ini terbit, belum ada satu orang pun yang dipidana atas kejadian tersebut.

Purwanti adalah generasi ketiga transmigran di Samarinda. Seperti dirinya, sebagian besar warga Kecamatan Palaran adalah anak-cucu pendatang yang dipindahkan pemerintahan Orde Baru dari Jawa. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai peladang.

Natasya bukan korban jiwa terakhir di lubang tambang Kaltim. Agustus lalu, pemuda bernama Hendrik Kristiawan (25 tahun) kehilangan nyawa di bekas galian batu bara yang urung direklamasi di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Samboja adalah lokasi yang dipilih pemerintah untuk menjadi ibu kota baru Indonesia. Wilayah itu bersebelahan dengan Sepaku, kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara, yang juga bakal menjadi pusat negara.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
CEO Ibu Kota Baru, Vaksin Corona dan Harlah NU Ditolak
BERITA - 5 bulan lalu
Terpopuler