Halo
Pembaca

Berita

Bola

Ramadan

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Senin, 27 Mei 2019 | 07:38 WIB

PDIP Nilai Nuzulul Quran Harus Jadi Momen Rekonsiliasi Usai Pilpres

Team VIVA »
Raden Jihad Akbar
Rifki Arsilan
Foto :
  • Rifki Arsilan/VIVA.co.id
Sekertaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

VIVA – Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia, Hamka Haq, menyatakan, kitab suci Alquran yang diturunkan pada bulan Ramadan memiliki nilai penting dalam perjalanan peradaban seluruh umat manusia di muka Bumi ini. 

Menurut Hamka, Alquran diturunkan sebagai panduan seluruh umat manusia untuk menciptakan perdamaian di muka Bumi. Dengan demikian, lanjut Hamka, momentum Nuzulul Quran kali ini harus menjadi momentum untuk perdamaian seluruh bangsa Indonesia, khususnya pascapesta demokrasi atau Pemilu 2019.

Baca Juga

"Kita baru saja mengalami sebuah kondisi di mana rakyat satu sama lain bisa saling membenci, saling menghujat satu sama lain, serta banyaknya informasi hoaks. Oleh karena itu kini saatnya kita kembali kepada nilai-nilai dari Nuzulul Quran karena Alquran pada dasarnya pembawa pesan damai bagi seluruh umat manusia," kata Hamka Haq dalam acara memperingati Nuzulul Quran di kantor DPP PDI Perjuangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu malam, 26 Mei 2019.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, peringatan Nuzulul Quran yang jatuh pada bulan Ramadan harus menjadi momentum seluruh elite politik dan bangsa Indonesia untuk melakukan rekonsiliasi atau perdamaian pascapertarungan pilpres. 

Terpopuler

Hasto memaparkan, Bung Karno pernah mengatakan, ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra' (bacalah). Tentunya, lanjut Hasto, yang dibaca tidak hanya secara tekstual semata, tapi juga segala sesuatu yang tersirat di balik teks di dalam Alquran. Dengan demikian, kata Hasto, Alquran bukan hanya membawa pesan perdamaian, tetapi juga pesan peradaban.

"Pemilu bukan akhir segalanya, kalah dan menang sama-sama mengandung sebuah tanggung jawab yang besar bagi bangsa negara. Yang menang harus menggunakan kemenangan itu untuk kepentingan bangsa dan negara, untuk rakyat, yang kalah bisa memperbaiki diri dan hanya lima tahun,” ungkapnya. 

“Tapi bangsa ini selalu ada dan memiliki tugas-tugas besar, maka jangan korbankan persatuan Indonesia hanya karena ambisi kekuasaan," ujarnya.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Injak-injak Sajadah Diatas Panggung, Caleg PDI-P Minta Maaf
BERITA - 4 bulan lalu
Terbaru