Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Senin, 4 November 2019 | 19:41 WIB

Brojedento Labuh, Gambaran Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin di Dunia Wayang

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Zahrul Darmawan (Depok)
Foto :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama Menteri Kabinet Indonesia Maju.

VIVA – Universitas Pancasila punya cara tersendiri untuk menggambarkan kondisi Indonesia usai Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Yaitu, dituangkan ke dalam pagelaran seni wayang kulit.

Dengan lakon atau tema Brojondento Labuh yang ditampilkan oleh dalang kondang Ki Anom Suroto, pertunjukan seni khas Tanah Jawa itu menjabarkan Brojodento Labuh sebagai putra bangsawan negeri Pringgondani yang mempunya hak menjadi Raja Pringgodani.

Baca Juga

Namun bersedia menyerahkan hak tersebut tanpa pamrih, kepada anak kakak perempuannya, Dewi Arimbi, yaitu Raden Gatotkaca. Pada cerita itu dijelaskan, sebelum pelantikan Gatotkaca sebagai Raja, Brojodento Labuh diprovokasi, dibujuk dan diiming-imingi, dengan segala cara dan akal busuk oleh Sengkuni (provokator).

Awalnya, sang bangsawan yang terpengaruh tapi akhirnya sadar dan memilih labuh, yaitu mengabdi dan bekerja sepenuh hati untuk kemajuan kerajaan atau institusi.

Terpopuler

Pertunjukan wayang kulit. Sumber: VIVA/Zahrul Darmawan.

“Wayang kulit itu kalau dimaknai dibaca hanya sekadar tontonan akan hilang akan pendek tertelan waktu. Tapi kalau dimaknai sebagai simbol situasi bangsa, negara atau dunia itu jadinya menarik,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Ade Saptono, Senin 4 November 2019.

Ia menjelaskan bahwa pagelaran wayang ini adalah simbol kejadian yang bisa digambarkan secara kekinian, sehingga hal itu akan menarik dan tak akan hilang oleh waktu. Dan lakon itu sesuai dengan momentum bangsa saat ini.

“Itu sebenarnya pertarungan mengukur kerelaan, kedewasaan sang anak bangsawan tadi. Di awal sempat terpengaruh untuk jadi raja (presiden). Tapi setelah dipikir panjang lebar dengan kematangan jiwanya akhirnya tidak bersedia mengejar impian itu. Dia ingin mengabdi tanpa pamrih memajukan kerajaan,” beber Ade.

Lebih lanjut ia mengatakan, dalam konteks Indonesia, lakon ini seakan menggambarkan kerukunan Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma'ruf Amin. Dan itu menjadi tontonan yang menarik.

“Semua akhirnya gotong-royong masuk jadi satu untuk memajukan Indonesia. Konflik enggak perlu terjadi. Dengan demikian pasti percepatan pembangunan akan terealisasi. Jadi inilah simbol-simbol yang ingin kami tampilkan. Bekerja tanpa pamrih,” tuturnya.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Wajah Milenial di Kabinet Indonesia Maju
TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu