Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Kamis, 22 Agustus 2019 | 04:06 WIB

Nasib Penemu Obat Kanker di Indonesia, Ditelantarkan Usai Juara

Foto :
  • abc
Kemenristekdikti mengakui dukungan pendanaan riset dan inovasi siswa berprestasi di tingkat Sekolah Menengah Atas dan perguruan tinggi menjadi produk industri masih terbentur birokrasi dan anggaran.

Viral temuan obat kanker dari kayu bajakah oleh siswa SMAN 2 Palangkaraya, hanyalah satu dari sekian banyak inovasi di bidang pengobatan kanker yang pernah dihasilkan peneliti muda di Indonesia.

Hasil karya peneliti muda Indonesia Peneliti muda dari UMS Wimmy Safaati Utsani menciptakan permen jelly anti kanker payudara dari daun sirsakDirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe mengakui mekanisme pemanduan bakat para peneliti muda ini masih banyak kekurangan.Pemerintah RI akan memgeluarkan anggaran Rp 5 Trilyun untuk Dana Abadi Riset dan Inovasi

Baca Juga

Namun ketiadaan dukungan membuat inovasi mereka terancam menguap begitu saja.

Sejumlah peneliti muda di Indonesia mengeluhkan tidak adanya bantuan bagi mereka untuk melanjutkan riset dan inovasi mereka untuk kemajuan pengobatan kanker di dalam negeri.

Hasil inovasi mereka, beberapa diantaranya bahkan pernah meraih penghargaan bergengsi di ajang kompetisi iptek internasional, terancam berakhir di laboratorium tanpa pernah menjadi produk yang bisa diakses masyarakat.

Keluhan ini misalnya disampaikan oleh peneliti muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wimmy Safaati Utsani, yang menciptakan permen jelly anti kanker payudara dari daun sirsak (Annona muricata).

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UMS ini menuturkan gagasan membuat permen jelly anti kanker ini berawal ketika dirinya sebagai mahasiswa berprestasi di kampus, didorong untuk meningkatkan prestasi dengan mengikuti kejuaraan kompetisi iptek internasional.

Pihak kampus pun bersedia memberikan dana untuk menyokong risetnya.
Prihatin dengan kerentanan perempuan terkena penyakit kanker, khususnya kanker payudara membuat Wimmy membuat obat untuk mencegah perempuan terkena kanker payudara dari herbal daun sirsak.

Wimmy mengaku dari berbagai jurnal diketahui tanaman ini mampu menghambat kanker karena mengandung senyawa annonaceous acetogenins, aasimisin dan squamosin yang berperan sebagai antikanker.

Ia mengklaim terapi dengan herbak daun sirsak jauh lebih aman dibandingkan dengan kemoterapi.
"Saya ingin meminimalisir risiko perempuan terkena kanker payudara dengan obat dari daun sirsak. Dari berbagai jurnal ilmiah terbukti daun sirsak itu 10 ribu kali lebih ampuh dari kemoterapi."

"Kalau kemo biasanya kan efek sampingnya sangat besar sama organ tubuh yang lain seperti rambut rontok dll, tapi kalau pakai tanaman herbal itu lebih minim efek sampingnya." lanjutnya.

Wimmy Safaati Utsani, mahasiswi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan permen jelly berbahan daun sirsak yang berkhasiat mencegah kanker.

UMS

Dan agar lebih memudahkan penyediaan obat herbal ini, Wimmy meraciknya menjadi berbentuk permen jelly.

"Biasanya daun sirsak ini direbus dan kalau diminum rasanya sangat pahit. Saya pernah mencobanya, jadi saya berpikir bagaimana ramuan herbal ini bisa lebih enak, tahan lama dan mudah untuk dikonsumsi warga khususnya perempuan untuk mencegah mereka terkena kanker payudara."

"Saya terpikir membuatnya dalam bentuk permen jelly." ungkap Wimmy.

Inovasi permen jelly anti kanker payudara ini pun kemudian diikutsertakan dalam ajang kompetisi Inovasi Teknologi Internasional (WINTEX) di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat pada 2018 lalu.

Wimmy berhasil merebut medali perak mengalahkan peserta lain yang berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Rumania, Sri Lanka, Jepang dan sebagainya.

Namun pasca meraih prestasi ini, nasib permen jelly anti kanker ciptaannya menjadi tidak menentu.

Pasalnya sokongan dana dan dukungan teknis tidak lagi tersedia untuk meneruskan riset itu sehingga permen jelly anti kanker ciptaannya bisa menjadi produk jadi yang siap diedarkan di masyarakat.

"Inovasi saya masih harus diuji pra klinis pada hewan dan uji klinis pada manusia. Begitu uji dosisnya dan itu semua butuh dana yang tidak sedikit."

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Cerita Jokowi Ibunda Sudjiatmi Notomihardjo Lawan Kanker
BERITA - 4 bulan lalu
Terpopuler