Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Minggu, 15 September 2019 | 17:07 WIB

Polisi Tangkap Anggota PSM, Istri Kepala Negara Kecewa

Foto :
  • bbc
Raja Permaisuri Agong bersama suaminya, Sultan keenam Pahang, Al-Sultan Abdullah Ri`ayatuddin Al-Mustafa Billah Syah Ibni Sultan Ahmad Syah Al-Musta`in Billah - AFP

Permaisuri Malaysia, Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah Sultan Iskandar, mengaku kecewa kepada aparat kepolisian negaranya karena menangkap warganya yang diduga menghina dirinya di media sosial Twitter.

Istri dari Raja Malaysia, Sultan Tengku Abdullah, tersebut mengaku ia dan suaminya tidak pernah meminta polisi untuk bertindak. Karena itu, ia sangat kesal mendengar kabar penangkapan tersebut.

Baca Juga

Hal ini diungkapkan permaisuri setelah polisi menangkap seorang aktivis di kota Klang pada Jumat (13/09) lalu, karena dituduh mengirimkan postingan yang menghina. Raja Permaisuri Agong diduga pertama kali menghapus akun Twitter-nya pada Rabu (11/09).

Langkah tersebut membuat ribuan warga Malaysia mendesaknya untuk mempertimbangkan kembali dan terus mengunggah kabar terbaru.

Terpopuler

Malaysia memiliki sistem monarki konstitusional yang tidak biasa, di mana jabatan puncaknya dirotasi antara sembilan keturunan penguasa setiap lima tahun. Raja bertindak sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan di salah satu negara tetangga Indonesia.

Apa kata sang permaisuri?

Dalam serangkaian cuitannya yang sekarang telah dihapus, Raja Permaisuri Agong mengatakan ia awalnya meninggalkan Twitter karena alasan pribadi.

"Saya benar-benar kesal karena polisi telah menahan orang-orang itu. Selama bertahun-tahun, saya dan suami tidak pernah membuat laporan polisi tentang komentar-komentar buruk tentang kami," tulisnya, menurut surat kabar Straits Times.

"Ini negara bebas," tambahnya.

Ia mengaktifkan kembali akun Twitternya setelah mendengar tentang penangkapan itu karena merasa "marah dan kesal".

"Saya sendiri mengatakan kepada Pihak Istana untuk berkata kepada polisi agar tidak mengambil tindakan apa pun. Saya ulangi lagi, saya tidak menonaktifkan akun saya karena mereka," katanya.

"Suami saya dan saya tidak pernah membuat laporan polisi, dan saya tidak pernah sedih (ketika saya membaca komentar tentang saya); sebaliknya, saya tertawa karena Allah tahu siapa saya!" ia menambahkan.

Apa yang terjadi pada aktivis yang ditangkap?

Pada Jumat malam (13/09), Khalid Ismath, anggota Parti Socialis Malaysia (PSM) ditangkap, karena diduga telah mengunggah pesan-pesan yang menghina permaisuri.

Ia dijerat dengan Undang-Undang Penghasutan 1948, yang sudah lama dikritik oleh oposisi politik dan kelompok hak asasi manusia, kemudian terpaksa bermalam di kantor polisi sebelum dibebaskan dengan jaminan pada Sabtu (14/09).

Kalangan pengacara dan kelompok pegiat hak asasi mengkritik penangkapan Ismath. Sevan Doraisamy, kepala kelompok HAM setempat Suaram, mengatakan langkah tersebut "tidak lebih merupakan intimidasi" oleh polisi.

Wakil Ketua PSM S. Arutchelvan mengatakan kepada Straits Times bahwa penangkapan tersebut tidak perlu dan mengatakan Ismath membantah telah menghina permaisuri.

Mengapa awalnya sang permaisuri meninggalkan Twitter?

Sebelum muncul kembali di Twitter untuk sebentar saja, Permaisuri mengirim pesan di Instagram bahwa ia meninggalkan Twitter karena alasan pribadi dan bukan karena merasa tersinggung dengan apa yang ditulis orang tentangnya.

Ia juga mendesak orang-orang agar tidak melaporkan komentar-komentar yang dipandang menyinggung itu ke polisi.

Kiriman Instagram-nya dibagikan di Twitter oleh putrinya.

Raja Permaisuri Agong dikritik di media sosial selama perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia pada tanggal 31 Agustus karena mengambil banyak foto. Beberapa orang menyebutnya "berperilaku seperti anak kecil", menurut surat kabar Malaysia Star.

Tapi ia menjawab bahwa raja telah memintanya untuk mengambil gambar.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Aktivis Walhi Diduga Tewas Dibunuh
TVONE NEWS - 6 hari lalu